Selasa, 18 Oktober 2016

Cerita Ngentot Ayam Kampus Vani & 3 Cowok

Cerita Ngentot Memek Ayam Kampus Vani


Party Berbuah Threesome - Another Vani's Sex Adventure Ajakan Party Berbuah Threesome - Another Vani's Sex Adventure Reff lagu The Club can't Handle Me tiba-tiba mengalun ketika ada panggilan masuk di BB Vani. Nama shasha tampil dilayarnya. "Hai Shasha" sambut Vani dengan suaranya yang agak serak-serak basah. Sexy, menurut gue. Di ujung lainnya Shasha dengan hebohnya mulai nyerocos tentang suatu party di suatu apartemen salah satu temannya. "Ayo Van, lo ikut ya. Revo bawa temannya yang ga ada pasangan. Lo temenin aja, biar gue bisa bebas sama Revo" rajuk Sasha. "Wait.. wait.. Sapa lagi nih Revo? Cowo baru lagi?" tanya Vani. Vani hampir bisa menebak bahwa diujung sana Shasha nyengir nakal sambil menjawab "Gitu deh.. Lo mau ya?". "Okay.. okay.. gue mau. Awas aja temennya ancur" ancam Vani. "It's a date! Gw BBM lo nanti tentang jam berapa lo bakal dijemput" tuntas Shasha lalu memutuskan sambungan teleponnya. Dan Vani pun beranjak pulang ke kostnya. Vani sedang berusaha mengancingkan bra-nya ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya disusul teriakan suara Shasha yang agak cempreng "Vann... ini gue, Shasha". Sambil membekap bra yang belum terkancing ke dadanya, Vani membuka kunci dan pintu kamarnya sebagian asal cukup buat Shasha untuk masuk. "Ahh.. untung lo udah beres dandan, hottie" ujar Shasha sambil mengecup ringan pipi Vani. "Bantu gue pake bra Sha, biar cepet nih" pinta Vani sambil memunggungi Shasha dan menghadap cermin. Shasha berdiri di belakang Vani dan kedua tangannya meraih kedua ujung kaitan bra Vani. Bukannya memasangkan, Shasha malah
melepaskan bra tersebut dan kedua tangannya meraup kedua bongkahan daging yang menggunung di dada Vani. "Aihh...." jerit Vani kaget. "Ihhh... gede amat sih toket lo Van" ujar Shasha iri dari balik punggung Vani. Dengan jahilnya jari jemari Shasha meremas-remas gundukan toket 36C (yeap, they HUGE!). "Aahh.. Udah dong Sha.." rajuk Vani agak sebel sambil melepaskan kedua tangan Shasha. "Iya.. iya.. gue cuma iseng doang. Habiss, gue iri banget liat toket lo. Jadi pengen gue sumpel silicon punya gue" rajuk Shasha sambil memasang kaitan bra Vani. "Eh, lo ga nuduh toket gue palsu kan? Ini asli dari pabrik bo'" ujar Vani agak sewot sambil memakai pakaiannya. Baby doll hitam berenda yang memperlihatkan bahunya tapi menutup rapat dadanya yang massive, dipadankan dengan mini skirt ketat warna putih dan stilleto hitam, Vani sudah siap untuk party malam ini. Shasha bertubuh langsing, pinggang ramping tapi mempunyai pinggul yang lebar dan pantat bulat yang menonjol bikin banyak cowok nafsu untuk meremasnya, memakai mini dress warna hitam yang sedikit menunjukkan belahan dada 34B-nya yang sekal. Shasha duduk di sebelah Revo, cowok cakep berumur sekitar 25an yang bertubuh tinggi ramping. Jelas kelihatan tajir dari mobil dan pakaiannya. "Pinter juga ni anak cari gebetan" batin Vani yang duduk di jok belakang mobil Revo. Di sebelah Vani adalah cowok yang katanya teman Revo yang butuh pasangan buat party malam ini. Begitu Vani menutup pintu, dengan ramahnya cowok ini mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Gue Ian" kata cowok itu. Vani menjabat tangan yang besar itu sambil meyebutkan namanya. "Gendut. Eh? Besar banget nih cowok" pikir Vani sambil menilai sekilas Ian yang duduk disebelahnya. Ian memang besar. Dengan tinggi 187 cm dan berat 90 kg, Ian terlihat seperti pegulat. Well, paling tidak itulah yang dipikirkan oleh Vani pertama kali. Dengan cepat suasana cair karena Ian ngocol juga anaknya. Perjalanan ke lokasi party hanya macet sebentar (tumben). Ramai juga. Free flow bir. Snack berlimpah. Shasha dan Vani langsung turun. Beberapa saat kemudian Ian datang menghampiri sambil menyodorkan sebotol bir untuk Van, yang langsung ditenggak sepertiganya oleh Vani. "Haus neng.. Apa doyan?" teriak Ian di dekat kuping Vani untuk mengatasi suara musik hip hop yang berdentam- dentam. Vani hanya tersenyum sambil terus bergoyang. Ian berusaha mengimbangi goyangan Vani, yang mengakibatkan beberapa orang nyaris terpental karena kesenggol tubuh besarnya. Tapi semua lagi happy, jadi no problem. Setelah beberapa botol bir dan 2 kali ke toilet, tiba Shasha menarik tangan Vani yang saat itu sedang dikerubungi 3 cowok yang berebut mengajaknya turun. "Eh, mau kemana Sha" tanya Vani agak bingung dan sebel karena sedang asyik memilih- milih cowok mana yang mau diajaknya turun dan bergoyang. "Kita pulang" kata Shasha. Tapi Vani tidak percaya begitu saja dengan kata "pulang" Shasha karena Vani melihat senyum nakal Shasha ketika mengatakannya. "Udah deh lo ikut aja" kata Shasha dengan tetap menyunggingkan senyum nakalnya. "Shasha bilang mau lihat rumah gue" kata Revo di mobil ketika Vani menanyakan tujuan mereka. "Bagus juga. Kita bisa chill out dulu habis party barusan sebelum pulang" tambah Revo sambil membawa mobilnya berzig-zag menyalip beberapa mobil lainnya. "Ngeliat cara lo ngebut kaya gini, gue rasa lo ga pengen sekedar chill out sama Shasha deh" batin Vani nyinyir. Tapi Vani masih asyik saja. Karena Ian dengan serunya ngocol buat Vani & Shasha hahahihi sepanjang perjalanan. Mobil Revo memasuki perumahan di kawasan Kelapa Gading. Ternyata rumahnya besar juga untuk ukuran ditinggali sendirian oleh Revo. "Toilet mana Hun?" tanya Shasha manja. Revo menunjukkannya. "Gue ikut Sha" sahut Vani. Di dalam toilet, Vani dengan gemasnya meremas pantat sekal Shasha. "Hu uh.. Lo pasti udah horny ya". "Aihh.. apaan sih lo Van" jerit Shasha sambil merengut manja. Sambil duduk di toilet, Shasha merajuk sama Vani "Bantu gue ya Van, temenin Ian ngobrol. Lo tau ndiri, hampir sebulan gue jomblo sebelum akhirnya jadian sama Revo tempo hari" ujar Shasha memelas. "Kering tau.." tambah Shasha dengan senyum nakalnya. "Ihh... slutty banget sih lo" balas Vani agak sebel tapi juga geli. "Setengaahh jam aja.. Lo temenin Ian. Habis itu kita pulang. Janji" kata Shasha sambil menaikkan kembali mini underwear-nya. "Ok deh" sahut Vani. "Ato lo pengen juga digenjot sama Ian" kerling Shasha jahil."Ihh.. jangan sampe deh. Bisa gepeng gue" sahut Vani sewot. Ketika kedua cewek sintal ini keluar dari toilet, ternyata Revo dan Ian sedang main billiard di tempat yang seharusnya ruangan keluarga. "Gue ikutt.." pinta Vani centil. Dengan agak cemberut, terpaksalah Shasha ikut juga. Dalam sekejap permainan tersebut menjadi berantakan karena Vani dan Shasha memang tidak bisa main billiard. Ketika sodokan Vani yang ketiga membuat bola putihnya terbang ke ujung ruangan, Shasha menimpalinya dengan nyinyir "Gimana ga kaco, lo kan biasanya disodok Van, bukan nyodok". "Uu- uhh.. Apaan sih lo Sha" timpal Vani agak tersipu sambil beranjak mengambil bola putih dari tangan Ian. "Lo berdua terusin aja mainnya ya. Gue mo ngobrol bentar sama Shasha" kata Revo tiba-tiba sambil menarik tangan Shasha untuk ikut naik ke lantai dua dan mengerdip penuh arti ke Ian dan Vani. "Kan belum kelar maennya Hun" rajuk Shasha manja pura-pura keberatan ditarik pergi, padahal Vani yakin memek Shasha sudah menjerit-jerit minta disodok- sodok. Sepeninggal mereka berdua, Ian menatap Vani sambil cengar-cengir dan berkata "Baiknya lo gue ajarin dulu deh cara nyodoknya sebelum ada yang terluka". "Emang gue seberbahaya itu?! Sebel" tukas Vani sambil menyubit pinggang Ian yang tebal. Tapi Vani tidak keberatan ketika Ian mengarahkan tangannya untuk memegang stick billiard dengan cara yang benar. "Biar lo bisa lihat arah bola putih dengan baik, lo harus nunduk Vani, paling bagus punggung lo jadi sejajar dengan tongkat. Kaki lebarin dikit biar seimbang" jelas Ian. Vani pun membungkuk, dan membungkuk lebih dalam lagi karena Ian menekan punggungnya sehingga dada Vani lebih mendekati meja lagi. "Gini bener An?" tanya Vani. Dua detik kemudian dengan agak kaget Ian baru menjawab "Eh iya, bener. Nah sekarang coba hit bola putihnya perlahan saja. Rasakan ujung stick lo hit ditempat ya lo mau. Hit tengah aja dulu." jelas Ian panjang lebar. Vani tidak tau bahwa perhatian Ian sempat teralih sejenak tadi karena begitu Vani membungkuk, mini skirt-nya ikut terangkat dan Ian sekilas melihat dua bongkah pantat putih Vani dan segaris tipis linen merah ditengahnya. "Anjrit! Ni cewek pake tong. Buseet tadi sekilas gue liat pantatnya mulus dan montok banget" batin Ian gembira. "Yess.. bolanya lurus larinya" jerit Vani gembira. "Tapi pelan An" kata Vani sambil berbalik ke Ian yang otaknya masih dipenuhi pemandangan sekejap pantat Vani. "Oh iya, jelas pelan. Posisi tangan lo masih ga nyaman pas megang tongkatnya. Dan kaki lo kurang lebar, jadi posisi lo kurang kokoh" balas Ian yang otaknya bekerja keras untuk cari cara agak bisa melihat pemandangan indah itu lagi. Yang sebenaranya sangat gampang terjadi lagi karena rok Vani mini banget memperlihatkan sebagian besar paha putih mulusnya. "Ayo gue bimbing lo" kata Ian sambil memegang kedua tangan Vani dan meletakkan di posisi stick billiard yang tepat. Vani membungkukkan badannya sejajar dengan meja, membuka kakinya lebih lebar. "Gini bener?" tanya Vani. "Bentar.." kata Ian sambil melangkah dari samping Vani ke belakangnya sehingga kali ini bisa melihat dengan jelas bagaimana setengah bongkah pantat Vani dan tong merah yang membelahnya dengan indah. "Uhh.. itu pasti gundukan memek Vani" batin Ian dengan penuh mesum sambil sedikit membungkukkan badannya. "Kaki lo lebarin dikit lagi Van. Pokoknya sampe lo ngerasa kokoh posisi lo" tambah Ian agak bergetar suaranya karena nafsu birahi mulai naik. "Gue bantu arahi tangan lo" kata Ian. Tanpa minta persetujuan Vani, Ian ikut membungkuk di atas tubuh Vani dan memegang stick di belakang tangan Vani, sedang satunya berlagak memperbaiki posisi tangan jari kiri Vani. "Awas gue ketindih badan lo ya. Gepeng nanti gue" kata Vani manja. Mendengar suara manja Vani yang agak serak-serak basah, Ian semakin mupeng saja. Apalagi selangkangannya hampir menempel di pantat Vani. Tapi, Ian jago juga "Tenang.. little brother.. tenang. Pelan- pelang aja majunya" ujar Ian dalam hati menenangkan nafsunya yang makin bergejolak dan menahan dirinya untuk tidak langsung menempelkan selangkangannya di pantat Vani (brother, ini sangat susah. Believe me). Dengan dipandu tangan Ian, Vani menyodok bola putihnya lagi. Kali ini karena dibantu power dan arahan Ian, bola putih melaju dengan lurus & cukup kencang untuk hit bola sasarannya. Bunyi benturan bola membuat Vani tertawa puas.. "Yeahh... gue berhasill" jerit Vani senang sambil mengangkat kedua tangannya. Ian ikut terkekeh puas. "Ayo kita coba lagi An, pokoknya sampe gue bisa" ajak Vani yang disambut gembira oleh Ian. Vani mencoba lagi dan lagi untuk menyodok sementara Ian berlagak membantu Vani memperbaiki poster shootingnya sambil mengambil kesempatan untuk membelai dan meremas pelan tubuh Vani. Yang Ian tidak sadari adalah, remasan Ian di pantat Vani untuk memintanya merendahkan sedikit, dan sentuhan agak lama di paha dalam Vani untuk memintanya melebarkan sedikit pahanya, mulai membuat memek cewek binal ini berkedut-kedut gatal.
Jantung Vani mulai berdebar lebih
keras dan nafasnya sedikit tersengal.
Vani mulai horny. "Sialan, kok gue jadi
horny gini sih" umpat Vani dalam hati.
Vani melirik jam dan berkata dalam hati "Masih 20 menit lagi sampe si
Shasha tuntas dientot Revo".
Bayangan bagaimana pantat sekal
Shasha dipompa oleh Revo malah
membuat memek Vani menjadi agak
basah. "Nah, kita coba lagi ya" suara Ian
yang tiba-tiba menyentak Vani dari lamunan mesumnya. "Eh, iya. Ayo kita coba lagi" agak tergagap Vani menyahut. Kembali Vani mengambil posisi membungkuk. Dan Ian kembali Ian terkesiap melihat pemandangan tersebut. Ian sudah nyaris tidak tahan untuk menerjang pantat yang menonjol itu. "Lebarin kaki lo dikit lagi Van" kata Ian sambil memegang dan meremas kedua paha dalam Vani. Vani nyaris mendesah karena sentuhan tiba-tiba di bagian tubuhnya yang sensitif itu. Vani harus menggigit bibirnya ketika tangan Ian yang besar menekan dan meremas pantatnya untuk sedikit diturunkan. Kali ini Ian agak memanjakan tangan kanannya dan meremas-remas pantat Vani lebih lama dari seharusnya. "Sampe kapan tangan lo mo disitu?" damprat Vani pelan belagak galak. "Eh sorry Van. Salah pantat lo sih, manggil-manggil tangan gue" ngeles Ian. "Ih.. kok jadi salah pantat gue" balas Vani dengan senyum dikulum. "Ayo, arahin lagi tangan gue Ian" pinta Vani. Dengan bersemangat Ian menerima permintaan ini. Ian kembali menempatkan tubuhnya diatas tubuh Vani, dan kedua tangannya memperbaiki posisi kedua tangan Vani. Bedanya kali ini Ian sudah tidak tahan lagi. Ian menempelkan selangkangannya ke gundukan pantat Vani. Vani agak terhenyak kaget ketika merasakan tonjolan kejantanan Ian yang menekan pantatnya. Vani sedikit bingung mau menyentak Ian agar menyingkirkan batangnya dari pantatnya, tapi tuntutan birahi di sekujur tubuhnya menginginkan agar Ian menekankan batangnya lebih dalam lagi. "Shit, gue ga tau ni cowok mau ngentotin gue apa ga" batin Vani gundah, karena saat Ian menekankan selangkangannya, Ian masih ngomong tentang posisi tangan Vani yang kurang tepat dalam megang stick billiardnya. Vani jelas tengsin kalau memulai duluan. Sedang Ian sendiri yang merasa tidak ada penolakan dari Vani ketika selangkangannya ditempelkan, dan Ian juga yakin Vani pasti merasakan tonjolan kontolnya menekan pantatnya, merasa mendapat lampu hijau. Sambil terus menyeracau tentang posisi tangan yang tepat untuk pegang stick, Ian mulai menggoyangkan pantatnya dan menekankan selangkangannya lebih keras lagi di pantat Vani. Beberapa saat digoyang seperti itu Vani hampir lepas kendali. Tapi akhirnya gengsinya menang. "Hei... enak lo ya goyangin pantat gue" damprat Vani. Agak tersipu Ian bangkit dari atas tubuh Vani "Sorry Van, kebablasan". "Mau ngajarin beneran ga sih lo" tambah Vani digalak-galakin sambil berkacak pinggang menatap Ian. "Iya.. iya Van. Gue ajarin bener. Dimulai lagi ya" pinta Ian. "Huu.. yang bener ya kali ini" sungut Vani sambil kembali mengambil posisi membungkuk siap menyodok. Tapi kali ini Ian sudah tidak bisa menahan birahinya lebih lama lagi. "Sebodolah, udah ga tahan lagi gue" batin Ian penuh nafsu mesum. "Rendahin dikit lagi badan lo Van" kata Ian agak bergetar sambil tangan kirinya menekan punggung Vani agar lebih rendah. "Bener, segini?" tanya Vani tanpa prasangka. Sambil tetap menahan punggung Vani dengan tangan kiri, tangan kanan Ian menyasar pantat Vani lagi. "Rendahin sedikit lagi pantat lo Van" pinta Ian. Vani menuruti tekanan tangan Ian pada pantatnya untuk sedikit direndahkan. Tapi, beberapa detik kemudian Vani sadar bahwa tangan kanan Ian tidak berpindah dari pantatnya, bahkan mulai meremas- remasnya. "Ehhhh... ngapain tuh tangan lo??" pekik Vani protes. Vani mau berdiri dari memarahi Ian lagi, tapi tangan besar Ian menahan punggunggnya semakin menempel pada meja billiard. "Ian.. jangan macam-macam lo yah!" ancam Vani tidak meyakinkan. "Bentar aja Van.. Gue nafsu banget liat bokong lo. Semok banget" ujar Ian dengan suaranya yang mulai serak karena birahi. "Gue mau lihat pantat lo ya Van" ujar Ian sambil langsung mengangkat mini skirt Vani sampai naik ke pinggang. "Aihh.... sialan lo" pekik Vani. Kaget, dan merasakan hembusan dingin AC menerpa kulit pantatnya yang nyaris tidak tertutupi karena menggungkan tong. Dengan gemas jemari Ian yang besar meremas bergiliran kedua bongkahan putih kenyal pantat Vani yang sedang menungging tak berdaya itu. Vani yang semula menjerit-jerit marah, kini sadar dia tidak bisa bergerak karena kalah kuat dengan tekanan tangan Ian, mulai memelas. "Pleasee.. Ian.. Jangan lakuin ini ke gue dong. Pleasee" rengek Vani. Tapi Ian sudah dikuasai nafsu birahi, malah semakin semangat meremas-remas pantat Vani. Bahkan kini jemarinya sesekali menyerempet gundukan di bawahnya. "Ian.. udah dong.." Vani masih merengek. Tiba-tiba Vani melenguh tanpa bisa ditahan "Houuhhh..." ketika dengan tiba-tiba jemari Ian meremas gundukan memeknya. "Ian.. ian.. ian... please stop it" agak tersengal dan kaget akibat rangsangan tiba-tiba pada bibir memeknya walau masih dari balik kain tongnya. "Hehehe.. gila, desahan lo betul-betul bikin gue tambah nafsu Van" kekeh mesum Ian yang semakin semangat meremas-remas gundukan bakpao Vani. Vani blingsatan mencoba melepaskan diri namun tiada hasil. Vani masih berusaha mengangkat tubuhnya ketika tiba-tiba Vani merasakan ada benda asing memasuki tubuhnya. "Aihh.. Iann... ngapain loo" pekik Vani tak berdaya. Jemari Ian dengan mudahnya menyingkirkan secarik tipis tong yang memisahkan jari-jarinya dengan lubang kenikmatan Vani. Dengan sedikit memaksa, jari tengah Ian yang besar menyelusup ke jepitan bibir memek Vani yang montok sampai langsung 2 ruas. "Ohh.. lo belagak ga sudi, ternyata memek lo udah basah Van" kata Ian penuh kemenangan. "Ga.. ga.. gue ga mau Ian... jangan.. Ahhhh... ouuhhhh..." kata-kata Vani terpotong dengan desahannya yang tidak tertahankan karena jari tengah Ian digerakkan keluar masuk mengocok memek Vani yang sudah mulai basah. Vani berusaha menahan desahannya dengan menggigit bibir bawahnya, tapi tetap saja suara tersengalnya keluar dari tenggorakan karena Ian juga sudah membenamkan jari tulunjuknya ke dalam memek Vani dan berputar- putar, mengobel-ngobel memek lonte satu ini. "Hmmppfffh... hmpfffh... Haaahhhh.... Iannnn" desah Vani yang matanya merem melek karena kenikmatan dilanda nafsu birahi yang akhirnya mulai mendapat pemuasnya. Dengan gemasnya Ian menggigit-gigit bongkahan pantat Vani sambil terus mengerjai lubang memek Vani dengan kedua jarinya, sampai pantat Vani mengejang-ngejang menahan ectassy kenikmatan yang melandanya. "Kalo lo mo keluar, lo harus bilang Vani keluar" perintah Ian, ketika melihat Vani mulai mengejang-ngejang. Dan benar, setengah menit kemudian jemari Ian merasa diremas-remas oleh dinding memek Vani, dan lenguhan Vani terdengar "Vhaannii kkheluuarrr....hhhaahhhh...". Mengejang-ngejang sedikit Vani, lalu Vani mulai membuka matanya dan menatap Ian "Sialan lo" maki Vani pelan. Kedua jari Ian masih di dalam memek Vani, ketika Ian bertanya "Lalu bagaimana sekarang?". Dengan masih tertelungkup di atas meja billiar, agak malu-malu dan memerah mukanya, Vani berkata pelan dan agak mendesah "Please sekali lagi". Dengan senang hati Ian memenuhi request ini. Kedua jarinya dihujamkan dalam- dalam ke memek Vani, yang membuat Vani memekik kaget "Aiiihhh...". Tapi kocokan dan diselingi gesekan intens di g-spot Vani membuat gelombang birahi kembali melanda Vani. Rasa gatal disekeliling memeknya menggila lagi dan menuntut untuk digaruk, digesek, dan dikocok dengan cepat. Bunyi kecipakan memek Vani yang banjir, ditingkahi oleh desahan dan lenguhan Vani yang keras membuat nafsu Ian semakin diubun-ubun. "Busetttt nih cewek hot banget... " batin Ian gembira. Tangan kiri Ian tidak lagi perlu menahan punggung Vani. Kini tangan kirinya sibuk meremas-remas toket Vani. "Hahhh... hahhhh... shhhhhhh... ya.. ya... kaya gitu.. kaya gitu... ouuhhh.." ceracau Vani tidak karuan. Ian sudah tidak tahan lagi. Sambil terus tangan kanannya mengocok memek Vani yang banjir habis sampai tetesan cairan pelumasnya membasahi paha Vani dan jemari Ian, tangan kirinya sibuk melepaskan gesper dan risluiting celananya. Tidak sampai 3 menit dari orgasme pertamanya, Vani merasakan gatal di memeknya semakin memuncak, mengumpul di ujung klitorisnya. Semakin dikocok, rasa gatal tersebut semakin terasa menyiksa, menuntut untuk digesek lebih cepat lagi. Akhirnya rasa gatal itu meledak dan menyemburkan arus kenikmatan dari selangkangannya ke seluruh kujur tubuhnya. "Ooaaahhhhh......hhhaahhhh hhh kellluarrrr.... Vani kheeluuuarrr..." pekik Vani dengan mata yang membeliak dan tubuh bergetar-getar mengejang penuh kenikmatan. "hah.. hah.. hah.." Vani memejamkan mata sambil berusaha mengatur nafasnya yang memburu setelah terpaan orgasme yang kedua. Tubuhnya tertelungkup lemas di atas meja billiard dan kakinya mangangkang menapak tidak kokoh di lantai. Ian sudah berhasil mengeluarkan kontolnya yang sepanjang 16 cm tapi gemuk kokoh dari balik risluitingnya. Ian tidak menurunkan celananya, hanya mengeluarkan kontolnya dari dalam celah risluitingnya. Pelan-pelan Ian memelorotkan tong Vani. Vani yang masih di awang-awang sensasi kenikmatan, tanpa sadar menurut saja ketika kaki kirinya diangkat untuk meloloskan tongnya. Tong merah Vani kini hanya tergulung tidak rapi di pergelangan kaki kanannya. Memek tembem Vani yang halus tanpa jembi, terkespos jelas. Bibir memeknya yang merah basah sudah agak terbuka akibat serangan pertama dari Ian, seperti siap menyambut serbuan berikutnya. Ian sedikit menarik pinggul Vani agar lebih menungging dan memposisikan memek Vani tepat di depan kontolnya yang sudah ereksi penuh. Vani baru sadar bahwa Ian siap memprenetasinya ketika merasakan ada desakan benda tumpul besar yang menyibak bibir memeknya. Vani berusaha membalik, tapi lagi-lagi tangan besar Ian mencegah hal itu. Sambil berusaha melirik ke belakang, Vani bertanya agak panik "Eh.. lo mo ngapain Ian? Kita sudahan kan?" Tanpa memperdulikan keberatan Vani, Ian semakin menekan pinggulnya dan berusaha membenamkan kontol tebalnya ke belahan memek Vani. Karena dinding- dinding memek Vani sudah basah kuyup, kepala kontol Ian relatif mudah menerobos masuk. "Iaaaannn... Jangan masukin.. jangan masukin.... " teriak Vani makin panik. Vani berusaha bangkit dengan menggoyangkan tubuhnya. Tapi efeknya malah sebaliknya. Akibat goyangan tubuh dan pinggulnya, batang kontol Ian mendapat momentum untuk melesak makin dalam. Diiringi gerungan, Ian menekan dalam-dalam pinggulnya "Hhrrrrrhmmm....". Dengan indahnya memek temben Vani menelah utuh- utuh kontol Ian. Mata Vani mendelik kaget dan tanpa sadar lenguhan keluar dari bibir sexynya ketika dinding-dinding memeknya merasakan benda asing yang tebal menyesaki liang senggamanya. "Hoouuuhhhhh...." lenguh Vani diiringi getar tubuhnya. "Hah.. hah.. please jangan entot gue Ian" suara Vani agak bergetar ketika memohon Ian. Bergetar karena bingung memutuskan apakah harus mempertahankan gengsinya tidak mau disetubuhi oleh cowok yang baru dikenalnya 2 jam yang lalu, ataukan menuruti desakan birahi dari selangkangannya yang bergetar keenakan karena disesaki batang tebal kontol yang berurat. "Hoh.. hoh.. sorry Van.. Memek lo memohon kontol gue biar dientot sampe puas hehe" kekeh Ian disela nafasnya yang memburu. Sambil tetap menahan punggung Vani, Ian mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Ditarik perlahan, kemudian dilesakkan lagi dalam-dalam. Tarik perlahan-lahan lagi, lalau dibenamkan lagi sampai mentok. Vani merasakan setiap inci dinding-dinding memeknya gesekan perlahan dari kontol Ian yang keluar masuk. Ini membuatnya gila. "Hiaan...hiaann... lo ngentotin gue... hah..hah.. gue kok dientot...hmmpppfffffhhh.." ceracau Vani yang makin kebingungan dan blingsatan karena nafsu birahinya naik lagi tanpa bisa ditahan. Ian semakin bernafsu begitu sadar Vani ikut menikmati persetubuhan ini. Memeknya makin banjir, membuat suara berkecipakan ketika dikocok. Ian mempercepat tempo genjotannya. "huhh..huuhhh..huhhh.. rasain nih.. rasainn... enakk kan.." gerung Ian penuh nafsu menggenjot memek Vani sambil meremas-remas pantat putihnya. Vani yang sudah kepalang tanggung melenguh-lenguh kenikmatan sambil menggoyang- goyang pinggulnya berusaha mengimbangi Ian "Ouhh..ouhhh.. Hhahhhh... hahhh... iya.. iya... entot terus gue.. entott gueeee..." lenguh Vani binal. "Woaa... lagi pada asyik rupanya" tiba- tiba ada suara cowok lain di ruangan tersebut. Kedua insan lain jenis itu reflek menghentikannya kegiatannya dan menoleh ke arah asal suara. Di pintu, Boris berdiri sambil menyengir penuh maksud (yang ga tau Boris, please baca petualangan Vani di cerita "Peju Siapa Iniiiii..."). Baru saja Vani mau bersuara, suara Ian terdengar lebih dulu "Woe, Bor, tau aja kita lagi disini" sapa Ian kasual. "Eh, lo kenal Boris" tanya Vani kaget dari posisi tertelungkupnya. "Yoi. Dia temen gue SMA" sahut Ian sambil mulai menggenjot Vani lagi. Vani yang masih panik karena ke-gap lagi ngentot, jadi blingsatan. "Eh.. eh.. stop.. stop dulu Ian" pinta Vani panik. Jelas panik, karena Boris sohib kental Albert pacar Vani. Kalau Boris ngember ke Albert, hilanglah cowok ganteng bin tajir itu dari tangan Vani. "Iann... gue bilang stop dulu" pekik Vani. Tapi Ian tidak peduli dan tetap menggenjot memek Vani semakin semangat. "Tenang Van, Boris ga akan ikutan sekarang. Gue jamin" kata Ian meyakinkan. "Bor, lo duduk manis aja ya disitu. Nonton aja. Jangan macem2" kata Ian ke Boris. "Iya.. iya.. tenang aja.." balas Boris nyengir sambil menarik kursi untuk bisa melihat lebih jelas live bokep Ian vs Vani. "Tapi.. tapi..." ucapan Vani langsung dipotong Ian "Kalau lo masih protes aja, Boris gue ajak join loh" ancam Ian. Vani langsung bungkam. Tapi bungkam Vani tidak berlangsung lama. Gocekan kontol Ian membuat birahinya melambung lagi. "Sebodo ah sama Boris nonton. Habis ini gue langsung cabut sama Shasha. Ouhhhhh... tebel banget kontolnya. Enaknya makk.." batin Vani. "Gaahhh... ngahhh.. hahhhhh... shhhhhh...." desahan Vani memenuhi ruangan lagi. Boris nyengir bahagia melihat cewek idamannya kelonjotan penuh kenikmatan di depan matanya. Tangannya reflek membelai-belai selangkangannya. Tidak sampai 5 menit digenjot, Vani mulai merasakan bahwa desakan orgasme mulai menyodok-nyodok. Lenguhan dan teriakan Vani mulai semakin tidak terkendali seperti halnya goyangan pinggulnya. "Ouhh.. ouhh.. Ya.. Ya.. Cepetin.. cepetin... Kocok makin cepat.. Ayoo.. hahh.. hahhhh..." ceracau Vani yang sudah diambang klimaksnya. Ian menanggapi request Vani dengan semakin cepat memompa lubang kawin Vani. Akhirnya, "Hiaaahhhhh.... Ouughhhhhh.... Shhhhhhhhh..." lenguh orgasme Vani membahana lagi. "Lo ga bilang keluar Van" perintah Ian. "Hiya... hiyaa.. Vhan... Vhani klluarrr.. hah.. hah.." desah Vani. Ian yang belum orgasme, mengangkat tubuh Vani yang masih lemas karena orgasme yang terakhir. Membopongnya dan merebahkannya ke sofa besar. Vani pasrah saja melihat Ian melucuti kemeja dan celananya, dan berdiri telanjang bulat dengan kontol gemuk masih tegak mengacung, berkilatan basah karena cairan cinta memek Vani. "Buka baju lo Van" perintah Ian. Vani langsung menyanggupinya. Ketika Vani mengangkat baby dollnya keluar dari kepalanya, toket Vani yang disangga bra merah langsung menyedot perhatian Ian. Dengan mata membeliak, Ian memandang dua bongkah melon putih dalam kemasan bra merah yang menggemaskan. "Buka BeHa lo. Cepet!" perintah Ian penuh nafsu. Tanpa diperintah dua kali, tangan Vani langsung bergerak ke belakang pungggungnya melepas kait bra-nya. Belum lagi Vani meloloskan branya dari tangannya, kedua tangan Ian yang besar sudah menyergap kedua bongkah daging kenyal itu. "Ahhhhhh...!!!" Vani menjerit kaget karena tidak menduga Ian akan menyergapnya seperti itu. Ian tidak ambil peduli, kedua tangannya yang besar masih tidak cukup untuk menutupi gunungan toket 36C milik Vani. Dengan penuh nafsu jemari Ian meremas, menekan, memilin kedua toket Vani. Lalu dengan rakusnya mulut Ian menelan dan melumat puting Vani. "UUhhhhhh..... hhhhmmpfffff..." Vani mendesah kesakitan sekaligus keenakan. Toketnya, terutama putingnya, adalah salah satu titik tersensitif tubuhnya. Reaksinya nyaris instan. Bibir memeknya mulai berkedut-kedut gatal lagi meminta dipuaskan. "Ajrit! Besar banget toket lo Van" puji Ian penuh nafsu. Tangan Vani dituntun oleh nafsu primitif birahinya mencari batang kenikmatan diselangkangan Ian. Ketika jemarinya menemukan benda tumpul yang dicarinya, langsung dituntunnya kejantanan Ian tersebut ke bibir memeknya yang sudah merekah. Ian yang merasakan genggaman hangat tangan Vani, langsung paham maksud Vani dan menggerakkan pinggulnya maju sehingga kontolnya menempel di bibir memek Vani. Dengan satu sentakan keras, batang daging yang gemuk itu langsung amblas dan menyipratkan cairan pelumas Vani keluar. "AAGHHHH.." jerit Vani tanpa sadar karena desakan tiba-tiba pada lubang kawinnya. Tanpa buang waktu lagi Ian langsung menggenjot Vani dalam torsi tinggi. Slepp... sleppp.. sleppp... kecipakan bunyi kocokan terdengar lagi. Mata Vani membeliak dan putih matanya lebih dominan, karena berbagai rangsangan yang diterima tubuhnya. G-spot dan dinding- dinding memeknya tergesek-gesek dengan instan oleh kontol Ian yang berurat. Toketnya diremas-remas, diunyel-unyel penuh nafsu. Ditambah lagi sedotan-sedotan di puting dan jilatan-jilatan lidah kasar Ian di sepanjang leher Vani. "HHaaaahhh... Hahhhh... Ouugggghhh....Gillaaa....Enakk kk.." lenguh Vani penuh birahi. "Hoohh.. hohh.. rasain nih bitch.. rasainnn..." tanggap Ian tak kalah nafsunya. Vani merangkulkan kedua kakinya dibalik punggung Ian dan tangannya memeluk Ian kuat-kuat, ketika ia merasa bahwa rasa gatal yang memabukkan semakin merajalela di selangkangannya. Ian juga sudah tidak kuat lagi menahan ledakan laharnya. Pada saat Ian merasa aliran pejunya sudah mulai mengaliri batang kontolnya dan kepala kontolnya semakin gatal minta digaruk makin cepat, Vani juga merasakan batang kontol Ian mengembang dalam memeknya. "Ohhh.. dia mau keluar.. dia mau keluarr... ga boleh di dalam.. ga boleh di dalam.." batin Vani panik. Tapi apa kata otak berbanding terbalik dengan reaksi tubuh yang sedang dimabuk birahi. Kaki-kaki Vani malah semakin erat merangkul Ian yang sudah tidak dapat menahan orgasmenya. Diiringi lenguhan keras Ian yang menjambak rambut Vani dan membenamkan kontolnya dalam- dalam, kontol Ian menyemprotkan pejunya kuat-kuat ke dalam liang senggama Vani sampai berlelehan keluar. "HUAAHHHHHH.... Hahhhh... Hahhhhh..." gerung Ian penuh kepuasan sampai tubuhnya mengejang-ngejang. Selama beberapa saat Ian masih menindih Vani menikmati sisa terpaan gelombang orgasmenya. "Thanks ya Van" bisik Ian sambil melumat bibir sensual Vani. Pelan-pelan Ian mencabut kontolnya yang mulai mengecil. Membawa banjir peju keluar membasahi bibir memek Vani dan mengalir turun. Lalu Ian beranjak mengambil tissue dan membersihkan kontolnya. Ditawarkannya tissue tersebut ke Vani yang masih tergeletak mengangkang di sofa dengan lelehan sperma di sekujur selangkangannya. Vani menerimanya tanpa banyak bicara. Pelan-pelang dibasuhnya sperma Ian dari selangkangannya. "Sialan, gue kentang banget. Belum keluar, dia sudah nyemprot duluan" runtuk Vani dalam hati. Hei, ternyata lonte satu ini tadi belum klimaks, makanya jadi BeTe. Tiba-tiba ada seseorang duduk di sebelah Vani dan berkata "Sini gue bantu bersihin pake tissue basah". Vani sontak kaget dengan Boris yang sudah bugil tiba-tiba sudah duduk menempel di sebelahnya dan berusahan menjulurkan tangannya ke arah selangkangannya. "Ehhh... mau ngapain lo" bentak Vani sewot menyingkirkan tangan Boris sambil berusaha bangkit. Tapi, tangan Boris dengan cepat merangkul Vani lagi untuk terhenyak di sofa, sambil berbisik "Apa lo mau gue laporin Albert lo ngentot sama orang lain? Gue rekam di HaPe gue aksi lo barusan". Vani terpaku sesaat dan menoleh memandang Boris "Bangsat lo Bor. Berani-beraninya lo.. hmmppff.." makian Vani terpotong karena Boris menyapukan tissue basah ke bibir memeknya. Tangan Vani reflek berusaha menyingkirkan tangan Boris dari selangkangannya, tapi langsung terhenti hanya sampai memegangnya karena langsung sadar posisinya. Vani masih tidak mau kehilangan Albert. Paham Vani sudah ditangannya, Boris semakin berani dengan memasukkan kedua jarinya dengan kasar ke memek Vani. Vani melenguh tertahan ketika memeknya merasakan benda asing lagi menerobosnya. Jemari Boris dengan ahlinya mengocok dan mengobel-ngobel memek Vani. Bibir tebal Boris langsung melumat dengan rakus bibir Vani, membuat Vani terengah-engah karena serangan mendadak ini. Tidak perlu lama untuk membuat Vani ON lagi, karena statusnya memang sedang dipuncak birahi tanggung yang tidak terpuaskan. Puas melumat bibir Vani, Boris menjelajahi pipi, leher dan menuju toket Vani dengan bibirnya. Jemari Boris menghentikan aktivitasnya di area selangkangan Vani, dan mulai menjamah bongkahan melon putih yang kenyal milik Vani. Boris mengambil posisi di atas Vani dengan kedua tangan meremas-remas tidak beraturan toket Vani. Matanya membelalak tidak percaya bahwa akhirnya dia bisa menjamah toket biadab Vani. "Toket lo memang perfect Van. Dosa kalo lo cuma ijinkan Albert yang menjamahnya" puji Boris. Ketika jemari Boris mulai memilin-milih dan menjepit puting Vani, bibir sensual Vani mulai mengeluarkan desahan erotis. "Sshhhh... ahhhhh.. pleaseee.. jangan keras-keras Bor... ahhhhh.." rintih Vani yang mulai dilanda birahi lagi. Boris sudah tidak tahan lagi, maka diangkatnya pantat Vani dan diarahkan ke kontolnya yang memang tidak sebesar milik Ian, tapi standarlah. Ketika kontol hitam berurat Boris terbenam ke dalam memek Vani, lagi-lagi pekikan Vani terdengar "Aiiihhhhh....". Tapi langsung disusul lenguhan kenikmatannya "Nggahhhh.. ngahhhhh... ouuuuhhh... iya.. that's right... ayo truuss...". Sambil menahan pinggul Vani yang menggelinjang dengan binalnya, Boris memaju- mundurkan pantatnya dengan penuh semangat. Menghajar memek Vani dari posisi atas, membuat Boris dengan bebas melihat bagaimana toket besar Vani bergerak-gerak liar karena goncangan. Kedua tangan Boris mencengkram kuat-kuat kedua bongkah daging tersebut dan semakin mempercepat kocokannya. Tidak sampai 5 menit orgasme Vani meledak dan membanjiri memeknya dengan cairan cintanya. "NGAhhhHhhhhhh.... Houuuuuhhhhh... Vanniii kluarrrr..." pekik Vani melampiaskan kenikmatan yang melandanya seluruh organ tubuhnya. Pinggul Vani mengelinjang- gelinjang selama beberapa saat sampai terpaan gelombang klimaksnya mengendur. "Hahh.. hahh.. hah...enak banget.. enak banget.. akhirnya sampe juga" desah Vani sambil menyapu keringat dari wajahnya. "Van, nungging" tiba-tiba suara Boris terdengar. Dan Vani pun baru sadar bahwa masih ada benda keras yang mengganjal dalam memeknya. "Eh, kok dia masih kuat? Kata Renny biasanya ga sampe 5 menit si Boris udah keluar" batin Vani keheranan. Yang Vani tidak tau adalah, ketika Boris sampai di rumah Revo, dia sudah nelen 1 butir Viagra sebelumnya. Karena Revo bilang ada party sama cewek-cewek di rumahnya. Tidak disangka rejeki nomplok, ceweknya adalah Vani. Jadi, sekarang dengan perkasanya kontol Boris masih tegak berdiri dan menghajar Vani lagi. Vani digenjot Boris dengan doggie style. Melenguh-lenguh kenikmatan. Kedua bongkah toketnya mengayun- ayun bebas akibat goncangan dan benturan paha Boris pada pantat Vani. Dan Vanipun semakin blingsatan ketika tangan Boris meraih toketnya dan meremas-remasnya kuat-kuat. Ian duduk diseberang ruangan, minum bir sambil menikmati persenggamaan mereka berdua. Doggie style membuat g-spot Vani dihajar kontol Boris secara intens. Tanpa ampun, gelombang gatal yang nikmat itu menyeruak lagi. Menggila dan menggetarkan semua kelenjar di area memek dan selangkangan Vani. Meluas ke perut, ke toketnya, ke ujung-ujung putingnya dan sampai ke ujung jemari kakinya. Ledakan orgasme yang ke-empat ini betul- betul dahsyat sampai membuat Vani mencengkram jok sofa kuat-kuat dan menggerung puas "OUUUUUGGHHHHHHHH.... Gahhhhhhhh...... Gillllllaaaaaaaaa.... Gue kluaarrrrrrr...". "HAhhh.. hahhhh... hhhahh... stoppp.. stopp bentar borr.... gue ga kuatt..." rengek Vani minta si Boris menghentikan genjotannya. Si Boris sebenarnya sudah mau keluar, tapi dituruti juga mau si Vani. Boris mengecup-kecup pundak dan punggung Vani. Kontolnya masih di dalam memek vani, tapi tidak dikocoknya. Ditunggunya Vani sampai tenang sedikit dari nafas yang tersengal-sengal karena terpaan orgasme. Sementara itu, menyaksikan orgasme Vani yang dahsyat, Ian horny lagi. Kontolnya ngaceng lagi. "Bor, bawa Vani ke kamar aja. Kita garap bareng" ujar Ian sambil membopong tubuh Vani. Boris sebenarnya ingin menikmati tubuh Vani sendirian, tapi dia takut sama Ian. Ketika dibopong Vani berbisik "Gue haus nih". "Bor, ambilin minum gih buat vani" perintah Ian. Boris kembali dengan sebotol kecil bir dingin yang langsung ditenggak habis oleh Vani. Bir dingin yang mengaliri tenggorakannya menyegarkan Vani, dan membuatnya sadar bahwa dia sekarang bugil di atas ranjang dan dikelilingi oleh dua cowok besar bugil dengan kontol yang sudah mengacung tegak siap dihujamkan ke tubuhnya. Vani jadi agak jiper. Bagaimanapun dia sudah agak lemas dihajar 5 orgasme berturut-turut. "Guys.. please. Gue ga akan sanggup handle lo bedua langsung" pinta Vani tidak berdaya sambil berusaha menutupi toket massive-nya dengan kedua tangannya dan merapatkan pahanya. "Sorry Van, gue jelas-jelas belum klimaks maen sama elo" ujar Boris mulai menaiki tempat tidur. "Dan lenguhan dan gaya ngentot lo udah bikin gue horny lagi. Jadi lo harus tanggung jawab" timpal Ian sambil mengocok pelan-pelan kontolnya dan mendekati Vani dari arah satunya. Vani beringsut mundur sampai menempel di tembok dan sadar dia tidak ada tempat buat lari. "Kalau lo melawan, malah lo akan kesakitan. Mending lo nikmatin aja kaya tadi Van" seringai Ian sambil meraih tangan Vani dan menyingkirkannya agar tidak menutupi toketnya lagi. Tangan Vani satunya masih berusaha menghalangi jemari Ian yang ingin meremas toketnya, tapi dengan mudah disingkirkan. Jari-jari Ian kembali dengan buasnya meremas- remas dan menguyel-nguyel melon putih Vani yang kenyal. Desahan lirih terdengar dari sela-sela bibir Vani yang sedikit terbuka. "Yah, gitu dong Van" puji Ian mesum sambil memilin- milin puting Vani yang tegang. Sambil tetap meremas-remas toket Vani, Ian menundukkan kepalanya dan melumat bibir Vani. Vani yang akhirnya pasrah meraih kepala Ian agar lebih dekat lagi dan memudahkan aksi lumat-melumat bibir mereka. Tanpa disadari Vani, Boris sudah membuka paha Vani lebar-lebar dan mengarahkan rudalnya ke bibir memek Vani. Boris sedikit mengangkat pantat Vani, kemudian menghujamkan kontolnya dalam-dalam ke memek yang basah dan memerah itu. "Hmpph.." Vani agak tersedak karena sedikit kaget atas melesaknya kontol Boris. Tapi bibir Ian menahannya untuk mengerang. Vani betul-betul sibuk dan kewalahan. Di bagian atas Ian dengan buas melahap bibirnya dan memainkan lidahnya dalam mulut Vani. Kedua bongkah toketnya tanpa henti digarap dan dirangsang habis oleh kedua tangan Ian. Tangan Vani yang mulus diminta mengocok kontol Ian. Di bagian bawah, memeknya basah kuyup dan gatal habis karena disodok-sodok oleh kontol Boris dengan RPM tinggi. Kali ini hanya butuh 3 menit untuk buat Vani meledak dalam orgasme lagi. Belum sempat mengatur nafas akibat orgasmenya yang terakhir, Ian sudah mengangkat dan membalikkan tubuh Vani. Vani menungging dan menghadap tepat ke kontol Ian yang duduk di depannya. Ian langsung memegang dan mengarahkan kepala Vani agar mulai menyepong kontolnya. "Aduh.. tebel banget. Muat ga ya mulu gue" batin Vani khawatir. Tapi, Vani tidak bisa berpikir panjang karena Ian sudah menekan kepala Vani sehingga mulut Vani langsung penuh oleh kontol Ian. Vani hampir tersedak, tapi Ian tetap menaik turunkan kepala Vani agar mulutnya mengocok kontol Ian. "Shhh..shhh.. enak mulut lo Van" desis Ian keenakan. Boris kembali membenamkan kontolnya kedalam memek Vani dan mengentotnya dalam doggy style lagi. Kali ini Vani betul-betul susah dalam konsentrasi mengemut kontol Ian karena gempuran kontol Boris dari belakang betul-betul membuatnya mengawang-ngawang kenikmatan. Tapi Vani berusaha terus untuk bisa mengemut-ngemut, menyedot-nyedot kepala kontol Ian, dan sekali-sekali lidahnya memainkan lubang kontol Ian. Ian jadi belingsatan keenakan dan mendesah-desah keenakan "Ahhhh... shhhhhhhh.. mmmhhh... Gila jago banget lo Van.. ashhhhhhhh" ceracau Ian sambil menjambaki rambut pendek Vani. Vani hampir keluar untuk kesekian kalinya ketika Ian meminta ganti posisi lagi. Vani berharap mereka cepat orgasme, karena dia tidak yakin bila dapat klimaks lagi dia masih bisa bertahan sadar. Kali ini Ian minta Vani WOT. Walau sudah lemas, Vani masih berusaha membuka pahanya lebar- lebar dan menduduki kontol Ian yang mengacung tegak. "Ouhhhhhhh...." Vani mengerang kenikmatan ketika kontol gemuk Ian menerobos celah lubang kawinnya. Rasanya betul-betul beda dari kontol Boris. Vani hampir saja keluar hanya dari tusukan pertama ini. Perlu beberapa detik agar Vani terbiasa lagi dengan perasaan mengganjal yang sangat penuh ini dan mulai bergerak naik turun mengocok kontol Ian. "Yeah.. that's the way baby" ujar Ian menyemangati goyangan Vani di atasnya sambil meremas-remas toket Vani. Karena di atas, Vani dengan bebas menggerak-gerakkan pinggulnya agar kontol Ian menggesek bagian-bagian dinding memeknya yang paling nikmat. "Ahhhhh... ngahhhhh..ahhhh..." desah Vani sambil menggoyang maju mundur pantatnya. Dengan nakalnya jempol Ian menggesek-gesek klitoris Vani yang menonjol, membuat Vani semakin blingsatan. Tiba-tiba Boris memeluk Vani dari belakang dari langsung meremas toketnya. Leher Vani dicium, dan digigiti oleh Boris. Tangan Boris juga mulai meremas- remas pantat Vani. Dan sesekali membelai sun hole Vani. Membuat Vani menggelinjang karena perasaan nikmat yang aneh. Tiba-tiba Vani merasa ada yang menerobos lubang pantatnya. "Auuuuhhh... Boris! Nakal banget sih lo" hardik Vani dangan nada birahi. Boris hanya nyengir sambil memasukkan lebih dalam jari tengahnya ke dalam pantat Vani dan mulai mengocoknya. Vani mengerang lebih heboh lagi dan menjatuhkan dirinya ke dada Ian. "Ahhh... ahhh... gillaa... Lo apain gue Borrr..." rengek Vani kebingungan. Cairan pelumas memek Vani yang membanjir sampai ke lubang pantatnya dan posisi nungging Vani memudahkan Boris mengocok pantat Vani. Tiba-tiba Boris menghentikan kocokannya dan mengeluarkan jarinya dari lubang pantat Vani. Tapi beberapa saat kemudian Vani merasa ada cairan yang dituangkan ke pantatnya dan mengalir masuk ke lubang pantatnya. Vani langsung sadar apa niat Boris. "Borisss.. Gue ga mau dianal" rengek Vani berusaha membalik tubuhnya, tapi tertahan oleh pelukan Ian yang memaksa kontolnya masuk makin dalam ke memek Vani. "Ayolah Van, gue tahu lo sudah pernah dianal sama Albert" bujuk Boris sambil memegarkan pantat Vani lebar-lebar agar lubangnya menganga. Vani masih berusaha berontak ketika merasakan kepala kontol Boris mulai mendesak lubang pantatnya. "Ahhh.. Borisss.. please dongg" rengek Vani hampir menangis. Tapi Boris tidak peduli lagi. Sudah sejak lama dia pengen menganal pantat semok Vani. "Pasrah aja Van. Apa lo mau kontol gue yang nganal lo?" timpal Ian yang langsung membuat Vani diam. "Hmpphhh huuhh" gerung Boris sambil berusaha menghujamkan kontolnya di pantat Vani. "Aaaahhhhhhhhh..... Pelan- pelannnnn...." pekik Vani agak kesakitan. Sudah agak lama sejak terakhir Vani dianal oleh Albert cowoknya. Untung saja kontol Boris lebih kecil daripada kontol Albert. Dengan tekanan kuat sekali lagi, kontol Boris langsung amblas ke dalam lubang pantat Vani. Blessshh! "Aiihhhhh... ahh.. ahhh.. " erang Vani lagi. Sambil merengkuh toket Vani lagi, Boris langsung menggenjot pantat Vani tanpa ampun. Erangan kesakitan Vani hanya bertahan sebentar saja. Begitu pantatnya terbiasa dengan kontol Boris, dan ditambah genjotan Boris membuat memeknya tergesek-gesek kontol gemuk Ian, Vani mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa. Rangsangan di pantatnya melipatgandakan rasa gatal birahi di memeknya. Vani mulai melenguh- lenguh dengan liarnya. Vani dijepit ditengah dan digenjot seperti sandwich. Blingsatan Vani menggoyang-goyang pinggulanya merengkuh setiap kenikmatan yang dihasilkan setiap gesekan di lobang kawin dan lobang pantatnya. Betul- betul luar biasa. "Ouuuuhhh... ouhhhh.. ngahhhh... shhhhhhhhhhh.. lebih cepet.. lebih cepet..." lenguh Vani yang menuju klikmaksnya. Boris yang merasa gatal di kepala kontolnya makin menggila, memompa pantat Vani gila-gilaan. Tapi ternyata Ian yang duluan meledak orgasmenya. Sambil meremas pinggul Vani kuat- kuat, punggung Ian melengkung dan menghujamkan kontolnya dalam- dalam dan spermanya menyembur di dalam memek Vani. "GAAAHHHHHHH..... AAHHhhhh.... hahhh.. hahhhh.." lenguh Ian penuh kepuasan. Disusul Vani beberapa saat kemudian. Vani merasakan gelombang orgasme yang pecah dari bibir-bibir memeknya dan ujung lubang pantatnya, membuat getaran ectassy kenikmatan menyebar keseluruh tubuhnya lagi. Membuat Vani kelonjotan dan tangannya blingsatan menarik-narik kain sprei. "OOoouuuuuughhhhh... Houuuhhhhhh... Yaahhhhh.. Yessssss...." teriak Vani penuh kebahagiaan birahi. Tapi ternyata Boris masih punya sedikit tenaga lagi dan terus menggenjot Vani yang sedang dilanda badai orgasme. Genjotan Boris yang tidak berhenti ketika Vani sedang klimaks, membuat Vani kembali dilanda orgasme berturut-turut. "Ahhhhhh.. kok... kok... gue kheluarrr lagiii... hahhhhh.." erang Vani. Kelonjotan beberapa saat, lalu Vani terjatuh lemas di dada Ian. Boris yang sudah nanggung, tetap memompa pantat Vani sampai dia merasa ada aliaran kenikmatan yang menjalar menuju kepala kontolnya. Ketika dia sudah tidak tahan lagi, Boris menekan dalam-dalam kontolnya ke pantat Vani dan meledakkan orgasmenya seperti orang histeris. "HOOAHHHHHHH.... HHAAAHhHHH....GIllllaaaaa" lenguh Boris penuh kepuasan. Boris mencabut kontolnya dari pantat Vani, menyebabkan leleran spermanya mengalir keluar. Lalu Boris menghempaskan badannya di sebelahnya. Tidur dengan senyum menghiasi wajahnya. Vani dan Ian sudah jatuh tertidur lebih dahulu dengan badan lemas tapi puas. Vani terbangun kaget. Melihat jam di dinding menunjukkan pukul 07.30. "Aduuhh.. paha gue kram rasanya ngangkang semaleman. Lobang pantat gue masih terasa agak aneh" runtuk Vani. Badannya terasa lemas. Tapi, senyum malu-malu tersungging di bibir Vani yang sensual mengingat pengalaman seks yang luar biasa semalam. "Kalo ga sama Ethan, ternyata gue butuh 2 cowok biar terbantai puas" batin Vani, yang kemudian disesalinya karena mengingat-ngingat Ethan lagi. Vani bangkit perlahan, agar tidak membangunkan Ian dan Boris yang masih mengorok dan keluar kamar menuju kamar mandi. Tapi, sebelumnya Vani membongkar- bongkar pakaian Boris dan mengutak-atik HP Boris sebentar. Terpaan air dingin dari pancuran menyegarkan tubuh Vani. Vani juga menyemprot selangkangannya mengeluarkan sisa-sisa sperma Ian dari dalam memeknya. Ketika keluar dari kamar mandi, Vani sudah kembali segar dan merasa lapar. Berbalut jubah mandi yang ditemuinya di dalam kamar mandi, Vani melangkah ke dapur dan membongkar-bongkar isi kulkas mencari sesuatu yang bisa dimakan. Akhirnya Vani membuat sandwich keju dengan fillet dada ayam. Ketika menelah potongan terakhir sandwichnya, Vani mendengar langkah orang yang mendekat. Agak was-was berpikir Boris yang mendekat, tapi ternyata Revo yang memasuki dapur dengan hanya menggunakan boxer dan bertelanjang dada. "Hai Van. Lagi sarapan? Gue juga laper neh" sapa Revo ramah sambil membuka lemari bagian atas dan mengeluarkan selai kacang. Revo membuat sandwich selai kacang untuk dirinya sendiri. Lalu Revo menawarkan segelas susu kepada Vani yang diterimanya dengan ramah. Sambil menguyah sandwichnya, Revo melirik ke Vani dan berkata "Sorry ya Van, sampe lo ikut nginep segala". "Gue ga nyangka Shasha liar banget di ranjang. Jadi ketagihan deh gue" tambah Revo. "He-eh" senyum sal-ting Vani mengembang, "Ga papa ko Rev. Itung-itung bikin hepy temen" tambah Vani bingung mencari alasan. "Tapi, gue rasa lo juga punya kesibukan sendiri sama Ian & Boris" kerling Revo nakal. Piass! Vani merasa wajahnya bersemu merah. "Huuhh.. Abisss lo bedua lama banget sih" rajuk Vani sambil mencubit lengan Revo menutupi malunya. Revo terkekeh lalu menggeser kursinya agar bisa duduk di sebelah Vani. "Gimana rasanya eMeL sama 2 cowo langsung?" bisik Revo di dekat telinga Vani. Vani jadi tambah salah tingkah mendengar pertanyaan Revo. "Eh.. oh.. gimana ya" jawab Vani bingung. Revo bertanya lagi "Kalo si Ian masukin penisnya ke vagina elo, punya si Boris masuk kemana dong?". Pertanyaan Revo memicu ingatan Vani atas hubungan seks yang terjadi semalam. Tubuh Vani juga ikut mengingat bagaimana memeknya disesaki oleh kontol Ian. Dan bagaimana penetrasi kontol Boris di lubang pantatnya mendatangkan sensasi birahi yang berbeda dan menenggelamkan Vani dalam gelombang birahi yang luar biasa. "Shit... Gue jadi horny lagi" runtuk Vani dalam hati. "BTW, gue denger teriakan Ian muji toket lo semalem" tambah Revo semakin menempel ke tubuh Vani. "Oh ya?" sahut Vani tidak tau mau jawab apa. "Boleh ga gue liat bentarrr aja toket lo?" pinta Revo yang mematanya memandang gundukan dada Vani yang tertutup jubah mandi. Tidak menunggu jawaban Vani, tangan kanan Revo sudah bergerak untuk menyingkap jubah mandi Vani di bagian dadanya. "Eh, mau ngapain lo?" tanya Vani kaget sambil menahan gerakan tangan Revo. "Ayolah Van, ga ada ruginya lo kasi liat gue toket lo yang katanya indah banget itu" Revo sedikit memaksa agar jemarinya bisa tepian jubah mandi Vani. "Iiihh.. lo nafsu banget sih pengen liat" rengek Vani tapi tidak menahan lagi gerakan jari Revo untuk menyingkap jubah mandi yang menutup toketnya. Vani penasaran juga pengen tau tanggapan Revo tentang toketnya. Agak bergetar jari Revo menyingkap jubah mandi Vani. Dari luar Revo sudah bisa menebak bahwa dada Vani lebih besar dari Shasha. Makanya dia betul-betul ngebet pengen ngelihat. Ga nyangka Vani tidak menolak lama-lama request Revo ini. Revo hanya bisa menyingkap sebagian jubah mandi, tapi itu sudah cukup untuk menunjukkan gunungan daging putih toket Vani. "Indah sekali Van..." suara Revo agak bergetar demi melihat pemandangan yang betul-betul menggugah birahi itu. Tanpa sadar jari telunjuknya bergerak menyentuh bagian toket Vani yang tampak dan menyusurinya ke belahannya. Vani sedikit kaget dan menggelinjang sambil menepis tangan Revo "Aihhh... jahil lo ah. Katanya mo liat doang" kata Vani sambil memajukan bibirnya berlagak cemberut. "Sorry.. sorry Van. Bener- bener itu reflek. Habis indah banget" melas Revo tapi lengannya tetap menempel tubuh samping Vani. "Udah puas kan ngeliatnya?" tanya Vani sambil berusaha menutup lagi bagian dadanya. "Eh? Tadi sih belum bisa dibilang ngelihat Van. Baru juga atasnya" protes Revo. "Ayolah Van, buka lebih lebar lagi. Biar penasaran gue atas apa yang dilihat dan dinikmati Ian dan Boris tadi malam terpuaskan" mohon Revo lebih lanjut. Vani sebenarnya ingin sekali menunjukkan toketnya dan melihat muka nafsu Revo ketika melihat toketnya. Tapi, biasalah, si Vani ga pengen dipandang gampangan. Revo yang menyadari bahwa tangan Vani yang menahannya tidak benar-benar kuat menolaknya, jadi tambah semangat. Kali ini Revo tidak sekedar membuka sedikit jubah mandi Vani, tapi langsung menyingkapnya lebar- lebar. Bongkahan toket Vani yang sebelah kiri langsung muncul seolah meloncat dan sedikit bergoyang karena tersenggol tangan Revo ketika menyingkap kain penutupnya. "Heiiii... " jerit Vani kaget. Vani reflek berusaha menutup lagi jubah mandinya. Tapi, ternyata Revo lebih cepat lagi untuk merangkulnya dan menahan tangan kiri Vani dengan tangan kirinya. Tangan kanan Vani pun tertahan himpitan tubuh Revo di sisi tubuh Vani. "Aa..aaa.. Revooo.. Lo nakal amat sih" rengek Vani agak jengah karena mata Revo membeliak lebar memandangi sebelah gunungan toket putihnya dengan puting pink kecoklatan yang mengacung tegak. "Gila.. ga nyangka gede banget toket lo Van. Bulat dan ranum banget" puji Revo sambil memelototi toket Vani yang hanya berjarak kurang dr 30cm dari mukanya. "He-eh..." senyum bangga sekaligus malu Vani merekah. Tanpa sadar, tangan kanan Revo bergerak menyentuh dan membelai kulit toket Vani yang mulus. "Aihhh... katanya cuma liat doang??!!" jerit Vani tersentak kaget karena tidak menduga sentuhan kulit hangat tangan Revo membelai toketnya. "Sorry Van.. gue cuma belai bentarr aja..." jawab Revo agak tersengal karena nafsu birahinya mulai menguasai. Revo semakin kuat memeluk Vani dan tangan kanannya kini tidak saja membelai toket Vani, tapi juga meremas-remasnya dan bahkan memilin-milin puting Vani yang sensitif. Tanpa bisa ditahan, bibir sensual Vani mengeluarkan rintihan dan desahan kenikmatan. "Shhhhh.. mppphhhh.. nakal amat sih lo Rev...." desah Vani lirih. "Kalo udah megang, udahan ya" pinta Vani sambil menggigit bibir bawahnya. Mendapat lampu hijau, Revo melepaskan pelukan dan pegangan tangan kirinya. Dan menyingkap jubah mandi Vani lebar-lebar kedua sisi, sehingga kedua bongkah susunya muncul kepermukaan. Jubah mandi itu kini hanya disatukan oleh ikatan di perut Vani sehingga menutup bagian perut kebawah. Dengan pasrah Vani bersadar di kursi dapur dan Revo dengan buasnya menggarap toket montok Vani. Kedua tangan Revo dengan kasarnya meremas-remas, menguyel-nguyel bongkahan daging kenyal itu. Mulut Revo dengan rakusnya menyaplok puting dan 1/4 bongkahan daging toket Vani. Seperti bayi Revo mengemut dan menyedot-nyedot kuat-kuat satu puting Vani dan memilin-milin satunya. Bergiliran. Vani tidak bisa lagi menahan erangan kenikmatannya. Vani sangat menyukai rangsangan kasar pada kedua toketnya. Terutama putingnya. "Ngahhhh.... mmmpphhhffffff... shhhhhh.." desah Vani tidak beraturan. "Ah.. ah.. jangan gigit keras-keras Voo... ngahhh.." rintih Vani yang mulai menikmati permainan Revo. Karena desakan tubuh Revo yang sekarang di depannya dan permainan kasarnya, Vani berusaha memperbaiki posisi duduknya dengan menyeimbangkan kakinya. Yang tidak disadari Vani adalah kini dia duduk mengangkang sehingga menyingkap jubah mandinya. Revo nyaris tersedak bahagia ketika melihat penutup bawah Vani tersingkap dan menyadari bahwa Vani tidak memakai underwear sehingga belahan memek tembem Vani terlihat jelas. Vani membuka matanya kaget dan memekik kecil ketika merasakan ada benda asing yang menerobos masuk liang kawinnya. "Aiiihhh.... mau ngapain lo Revvv...". Vani hanya bisa meremas bahu Revo ketika Revo tetap memaksa untuk mengocok memek Vani dengan jari tengahnya. "Ahh.. ahh... bu.. bukan gini khan perjanjiannyaa...ahhh.." kata Vani terbata-bata karena bingung dan tengsin. "Ayolah Van, ga usah muna lagi. Lo enjoy kan gue kerjai toket dan memek lo" tukas Revo penuh nafsu sambil tetap mengocok memek Vani yang sudah basah. Vani tidak bisa berkata-kata lagi karena memang benar memeknya sudah gatal minta digaruk dan digesek. Menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang lebih keras lagi muncul, mata Vani nanar menatap Revo dibawahnya yang asyik mengocok memeknya. Nalarnya mulai susah diajak kerja sama. Tiba-tiba Revo menghentikan kocokannya dan berdiri. Vani yang hampir sampai di orgasme pertamanya pagi ini, jadi agak gelagapan "Eh.. oh.. kok berhenti?" tanya Vani, yang jelas disesalinya begitu kata-kata itu keluar. "I wanna fuck you hard Van" kata Revo dengan nafas memburu. "Ayo bungkuk, tunggingin pantat lo" perintah Revo sambil menarik tangan Vani agar berdiri. Vani menurut dan menelekkan kedua tangannya di cabinet dapur dan membungkukkan badannya. Siap untuk penetrasi dari belakang. Di belakangnya, Revo dengan cepat melepaskan boxernya dan siap-siap untuk mengarahkan kontolnya yang sudah menegang penuh ke memek Vani. Ketika Revo menyingkap ke atas jubah mandi Vani, dan memperlihatkan bongkahan pantat Vani yang sintal, Revo bersiul.." Suiitt.. mantap banget body lo Van" kata Revo sambil meremas gemas pantat Vani. Tiba-tiba satu kesadaran menyentak otak Vani. "Eh, kita ga bisa lakuin ini Rev" kata Vani sambil berusaha berdiri dan berbalik tapi terhenti karena Revo mendekapnya dari belakang. "Tentu saja bisa Van" bisik Revo sambil menciumi leher Vani dan meremas-remas kedua belah toketnya. Akibat berat badan Revo, Vani terpaksa bertelekan lagi ke cabinet dengan kedua tangannya. "Lo pacar Shasha Rev" kata Vani mencoba meyakinkan Revo yang masih meremas-remas toketnya dari belakang, dari sekarang mulai menekan-nekankan pinggulnya ke pantat Vani. "Hubungan gue sama Shasha bisa rusak gara-garr.. Ouhhhhh.." kalimat Vani terputus karena kaget ada benda besar yang menerobos masuk tubuhnya. Setengah kontol Revo berhasil menerobos masuk jepitan bibir memek Vani yang basah merekah. Revo mulai memaju-mundurkan pinggulnya, mengocokkan kontolnya yang tegang keras di dalam liang kawin Vani. "NGahhhh..ahh.. Rev.. brenti.. brenti dulu....aaahh.. kita ga bisa.. oohh.. Shasha.. hmmmppff.." kata-kata Vani berantakan oleh dengusan nafasnya yang diburu oleh nafsu birahi. Revo membenamkan dalam-dalam kontolnya, kemudian menghentikan goyangannya. Lalu berbisik di telinga Vani "Kalo lo mau Shasha ga tau, lo biarin gue ngentotin memek lo sekarang. Biar shasha ga keburu bangun". "Tapi.. tapi.. " Vani masih mencoba beralasan agar Revo membatalkana niatnya. Tapi, cowok mana sih yang bakal membatalkan acara ngentotnya kalau kontol sudah di dalam memek. Apalagi jelas-jelas memeknya sudah basah kuyup tanda birahi yang minta dipuaskan. Tidak memperdulikan keberatan palsu Vani, Revo kembali menggempur memek Vani dari belakang. "Damn.. damn.. hohh... memek lo basah banget tapi peret...kontol gue kaya diremes- remes.. " maki Revo penuh nafsu sambil menghentak-hentakan pinggulnya sampai membentur pantat Vani berulang-ulang. Vani yang tidak kuat lagi menahan gempuran birahi akhirnya menyerah pada kenikmatan kontol Revo. "Haahhh... hhaaahhh... auuhhhhhh... mhhhhhhhhh..." erang erotis Vani terdengar di penjuru dapur. Tak lama kemudian, rasa gatal di sekujur memeknya tidak tertahankan lagi dan meledak menjadi orgasme pertamanya pagi ini. "HOUUUHHHHH.... hooohhh... hahhhhh... hahhhh.." lenguh Vani yang badannya mengejang menahan gejolak orgasme yang memabukkan. "hah. hah... huuhhh.." Vani mencoba menata nafasnya memburu sementara Revo masih mengocok kontolnya dari belakang. "Rev.. rev.. stop.. stop.. kaki gue lemes" pinta Vani masih tersengal-sengal. Revo menarik lepas jubah mandi Vani dan menggelarnya di lantai dapur. Vani langsung tidur terlentang. Revo mengangkat pantat Vani, menahannya dengan pahanya, lalu membenamkan kontolnya ke memek Vani. Vani sampai mendongak ketika memeknya dihujam dalam-dalam oleh kontol Revo. "HOoohhhhh..." lenguh Vani. Dengan ahlinya Revo menghujam-hujam memek Vani, diselingi oleh putaran-putaran pinggulnya membuat Vani jadi belingsatan lagi. Keenakan. "Hiyaa.. hiyaa.. begitu.. bener begitu.. teruskann Revvv.... NGahhhh..." bibir sensual Vani menelorkan kata-kata menyemangati kentotan Revo. Revo sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dia merasa bendungannya sebentar lagi jebol. Apalagi Vani dengan erotisnya meremas-remas toket bulatnya sendiri. "Ghuuee... mau keluar ya Vann.." dengus Revo terputus-putus. "Dikit lagi.. Rev... dikit lagi.. ahhh.... kocok cepatan.. kocok cepetan.. nggaahh.." rengek Vani. Tapi Revo sudah dititik puncaknya. Akhirnya "HAHHHHHHH.... Huuuuhhhh... makan peju gueee..." lenguh Revo sambil membenamkan dalam-dalam kontolnya. Vani merasakan semprotan hangat dalam memeknya, jadi makin binal. Rasa gatal di seluruh dinding memeknya sudah semakin memuncak. Hanya perlu sedikit gesekan lagi

Jumat, 13 November 2015

Cerita Sex: Only Petting Saja, Tak Lebih



Cerita Sex: Only Petting Saja, Tak Lebih – Tidak dipungkiri jika chatting membuat semuanya bisa berubah. Kehidupan yang sebelumnya adem ayem, tenang tidak ada gejolak mendadak seperti bahtera yang terombang-ambing di tengah lautan. Ya, chatting membuat hidup seseorang menjadi berisi. Seperti cerita yang ingin saya sampaikan kepada pembaca setia 17tahun2.com. Namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saya terpaksa merahasiakan identitas pribadi saya, termasuk beberapa wanita yang pernah menghiasi kehidupan seks saya selama kurun waktu tiga tahun terakhir.

Cerita Sex: Only Petting Saja, Tak Lebih – Ist

Cerita sex – Saya sebenarnya biasa saja, sangat biasa mungkin. Tapi entah kenapa, saya diberi kelebihan dengan kepintaran saya. Mungkin tidak semua laki-laki seusia saya diberi keberuntungan seperti yang saya raih sekarang ini.

Begitu lulus dari sebuah perguruan tinggi terkenal di kota Surabaya, saya mulai bekerja di sebuah penerbitan surat kabar yang berafiliasi dengan salah satu kelompok penerbitan terkenal di kota Surabaya. Tapi saya bekerja di Jakarta, sebuah harian yang berbahasa Mandarin. Dari tempat saya bekerja akhirnya saya tahu banyak seluk beluk ibukota. Untungnya lagi, mami saya juga seorang ketururan China, bahkan malah boleh disebut Totok karena lahir di Negeri Tirai Bambu tersebut, jadi tidaklah sulit bagi saya untuk bergaul dengan warga keturunan China.

Chatting memang sudah menjadi kebiasaan saya sejak kuliah, kala itu masih ngetopnya MIRC, tapi begitu Yahoo ada messenger-nya, semuanya beralih. Demikian juga saya. Tapi kadang-kadang bosan juga setiap hari chatting tidak jelas juntrungnya. Setelah hampir 3 tahun saya chat dan pindah-pindah pekerjaan, tapi masih seputar dengan urusan jurnalistik akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan senior saya yang menghidupkan kembali sebuah penerbitan surat kabar di Surabaya. Tapi saya tetap di Jakarta sebagai wartawan biro Jakarta.

Baca cerita sex terbaru lainya di –> cerisex.net

Seperti biasa, saya menghabiskan waktu dengan chatting di sela-sela menyelesaikan deadline. Kebetulan waktu itu, Yahoo Messenger (YM) masih ada room-room yang bisa digunakan untuk mencari dan melihat show-show perempuan yang memang hobi eksebisi. Maaf, terutama TKI Indo yang ada di Hongkong dan Taiwan. Tapi lama-lama bosan juga melihat seperti itu. Tidak disangka, saya mulai berkenalan dengan seorang wanita keturunan China, sebut saja S. Usianya kala itu sudah 43 tahun, tapi karena dia memang rajin fitness, tubuhnya masih terawat.

Singkat kata, kami terus chatting dan berkenalan lebih jauh. Merasa sudah tidak betah hidup sendiri di Bali, tepatnya di Denpasar, akhirnya S. memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kumpul lagi bersama keluarga besarnya yang tinggal di Bogor. Pucuk dicinta ulam tiba. Sayapun memintaS. pulang ke Jakarta. Karena saya sibuk dengan pekerjaan saya, malamnya saya baru bisa bertemu untuk pertama kalinya dengan S. Tapi jangan salah dulu, meski saya dan S. belum bertemu, tapi lewat bujuk rayu akhirnya saya bisa mendapatkan puluhan foto telanjang dia yang dia ambil bersama temen kostnya di Denpasar.

Selesai dengan deadline, saya akhirnya sepakat bertemuS. di hotel tempat dia menginap di kawasan Mampang. Dia menginap di hotel tersebut karena sudah dibooking temannya yang ternyata juga seorang penari striptease di salah satu tempat hiburan di bilangan Dharmawangsa Square yang saya lupa namanya. S. waktu itu masih di seputaran Blok M ketika saya hubungi.

Setelah menunggu beberapa lama, teman saya, yang juga teman chatting S. datang dan kami akhirnya menunggu S. pulang dari Blok M. Singkatnya lagi, S. akhirnya kembali ke hotel tempat dia menginap. Bertemu dengan perempuan setengah baya yang masih bagus tubuhnya, tinggi dan Chinese tentu satu pengalaman yang mengesankan bagi saya. Walaupun saya setiap kali hampir bertemu dengan wanita-wanita Chinese yang bekerja di kantor saya dulu. Tapi dengan S. berbeda rasa, dia langsung memeluk saya dan berciuman bibir di lobby hotel. Ini Jakarta bung, ngapain malu segalanya!

Kami bertiga akhirnya menuju kamar S. yang jendela kacanya menghadap jalan Mampang, kami bertigapun ngobrol dan sembari minum arak Bali yang dia bawa dari Denpasar. Di sela-sela ngobrol, S. kelihatan senang sekali bisa bertemu dengan saya. Karena sudah janji dengan temannya yang jadi striptease di Dharmawangsa tersebut, S. akhirnya bersiap ganti baju. Saya diminta masuk kamar utama, sedangkan teman saya yang cowok menunggu di ruang tamu.

S. sama sekali tidak canggung karena kami memang sering phone sex dan saling kirim foto telanjang masing-masing. S. pun langsung membuka bajunya dan tanpa canggung dia memperlihatkan payudaranya yang masih kencang di depan mata saya. Sesekali dia menindih saya karena gemas. Maklum, sebagai laki-laki keturunan China dengan ayah seorang pengageng di Kraton Solo, tentu saya cukup menarik. Tinggi saya, 178cm dengan postur tubuh atletis, apalagi dengan junior yang panjangnya bisa mencapai 16cm, saya cukup bangga dengan postur tubuh dan junior saya ini. Oh ya, tiga tahun silam, saya berumur 30 tahun, jadi bisa dibayangkan betapa saya memiliki hasrat yang luar biasa. Dan satu hal yang penting, mangsa telah di depan mata.

Sebagai laki-laki normal, tentu saja saya berontak melihat pemandangan indah di depan mata. Pemandangan yang selama ini hanya saya bayangkan karena Jakarta-Denpasar cukup jauh. Tapi malam itu, S. di depan saya, memperlihatkan payudaranya yang indah. Tak sabar, sayapun mulai mengecup mesra putingnya. Cukup nikmat, hhmmm puting yang memerah itu kini masuk dimulut saya. Saya tidak asing dengan putingS. karena dia memang sudah mengirimi saya bentuk tubuh telanjang dia. Saya mulai kerasukan, sembari memilin, memiting dan menjilati puting S, saya merancau.

“Enak sayang, hmm aku suka, akhirnya kesampaian juga,” kataku sambil tak henti terus menjilati putingnya. S. pun mulai tidak sabar, dia hanya tersenyum senang, mungkin jarang mendapatkan laki-laki muda seperti saya selama dia berhubungan dengan laki-laki lain.

S. sudah terangsang, tanpa diperintah dia mulai mencari junior saya.

“Uch… mana punyamu, aku sudah tidak sabar lagi ingin mengulumnya, menjilatinya”, kata dia dengan mata sedikit sayu.

Saya berpikir dia sudah mulai horny. Jelas, dia sudah mulai horny karena ketika tangan saya menyentuh gundukan lembut di selangkangannya, cairan kewanitaannya sudah meleleh.

Hmmm, bayangkan pembaca, wanita yang selama ini hanya saya bayangkan kini di depan mata.
Tapi sebelum semuanya menjadi jelas, tersadar jika teman saya mulai gelisah, akhirnya saya hentikan petting dengan S. karena sudah waktunya berangkat. S. memakai tanktop pink dengan pusar kelihatan jelas. Malam pun kami habiskan dengan S., teman saya dan teman S. yang menjadi stripteaser tersebut dengan minum beberapa sampanye dan beberapa JD dan Chevas.

Karena sudah mulai capek akhirnya saya usul untuk pulang ke hotel, kami berempat pulang. Tapi teman saya meminta pulang ke rumahnya karena sudah mabuk. Sayapun setuju. Akhirnya saya bertiga, S. dan temannya balik ke hotel. Setelah mandi dan bersih-bersih muka, S. mulai menemani saya di ruang tamu. Sedangkan temannya berganti mandi, lalu hanya memakai daster transparan. Sebenarnya teman S. ini cukup menggiurkan untuk diembat, tapi saya sudah tidak selera dengan wanita yang umurnya di bawah saya. Apalagi dia seorang stripteaser.

Kami ngobrol di ruang tamu, S. memakai kaos motif Bali putih dan mengenakan sarung Bali. Tapi sesekali dia membetulkan sarungnya sembari memperlihatkan g-stringnya yang sangat mini, hitam lagi warnanya. Mungkin karena kecapekan, teman S. langsung terlelap tidur. Kami meneruskan ngobrol di ruang tamu. Kami saling berciuman dan meraba,

“Hmm teruskan sayang, mau menikmati tubuhku?” tanya S. kepada saya. Sayapun hanya tertawa kecil. Sungguh pembaca, saya tidak kuat, ingin merasakan bersetubuh dengan wanita setengah baya dan sepertinya akan tercapai.

S. sudah mulai horny berat, dia mulai melepaskan kaosnya, dan meminta saya menciumi tubuh dan payudaranya. Tanpa melepaskan kesempatan emas ini, saya mulai beraksi.

“Aku cium ya”, pintaku.
S. menjawab sayu, “Puasin aku sayang…”

Puting yang merekah merah terus saya kulum, saya gigit saya jilati hingga membesar. S. pun sepertinya ingin melepaskan dahaganya. Selang kemudian dia mulai melepas g-stringnya. Oh Tuhan, wanita ini akan telanjang di depan saya. Alangkah berkat sekali. S. pun akhirnya telanjang, dia minta saya untuk menjilati memeknya yang merah merekah. Menarik untuk segera dijilat dengan lidah saya.

“Ayo sayang, jilati aku sayang, aku pengen sekali, aku pengen sekali. Aku ingin kamu masukin kontolmu ke memekku”, pintanya.

Saya belum bereaksi, saya masih ingin menikmati memek yang ada di depan mata saya, saya jilat pelan-pelan klitoris yang seperti biji kacang itu dengan penuh kelembutan. Asin sepertinya cairan S., tapi saya tidak peduli. Saya jilat terus hingga akhirnyaS. melenguh pelan, “Sayang, terus, terus jilatin, gigit itilnya sayang”, kata S. nanar.

“Kamu suka? Kamu mau merasakan jilatanku terus”, tanyaku.

Tanpa menjawab S. langsung membenamkan wajah saya ke memeknya. Sayapun terus bekerja, seperti ketika saya menyelesaikan deadline. Kejar terus memek itu! Kata hati saya. S. meregang terus sesekali tangannya meraba junior saya yang memang belum saya lepaskan dari sangkarnya. Saya ingin membuat S. minta ampun. Serampangan S. terus mencari kontol saya.

“Buka sayang, aku ingin pijat, jilat ujung kontolmu, aku pengen telan spermamu sayang”, ujar S. merangsak masuk tangannya ke celana dalamku. Akupun berhenti mengekploitasi memeknya. Jembutnya sungguh indah untuk dipandang!

Karena kasihan akhirnya aku loloskan celana dalamku dan akhirnya menyembulkan junior dengan gagahnya,

“Damn this is my pride!”, ujarku dalam hati.

Ujung kontolku yang sudah mulai basah mengkilat karena cairan mahdiku pun langsung disapu lidah S.

“Ochhh nikmat sekali sayang, terus jangan berhenti. Och Shit!!!”, teriakku.

Tapi aku tersadar jika ada teman S. yang tertidur pulang, maklum pintu kamar utama tidak ditutup.

S. tertawa kecil, dia kelihatan senang membuat ujung kontolnya ngilu dan geli sewaktu disapu dengan lidahnya. Lidahnya mulai turun ke bawah pas di batang kontolku, lalu perlahan, jilatan-jilatan kecil mulai ditujukan ke arah buah pelerku.

“Enak sayang?, mau diapain lagi?”, tanya S..

Tanpa menjawab aku sengaja menyodorkan buah pelerku ke arah mulutnya yang belepotan dengan cairanku. S. seperti kesetanan. Mungkin dalam hati dia berpikir, kapan lagi aku bisa mendapatkan kontol muda seperti ini. Ya, pembaca, kontolku memang menarik. Belum berkerut seperti kontol-kontol laki-laki yang sering keluar masuk lubang buaya perempuan. Kontolku masih original karena memang hanya beberapa kali saja dimasukkan ke memek perempuan.

S. terus menjilat, menjilat dan merancau dengan liarnya. “Puas, puas nggak”, tanya S. Sambil tertawa dia terus menjilat dan akhirnya dia mengarahkan kontol saya yang sudah tegak berdiri ke lubang memeknya yang basah dengan cairannya sendiri.

Oh no, this gonna happen!. Stop it ! aku berteriak! “Jangan sayang, aku tidak ingin!” kataku. S. kebingungan,

“Kenapa, kamu tidak ingin? Atau kamu tidak puas dengan jilatanku?”, tukasnya.
“Aku tidak mau sekarang, tidak tahu untuk nanti”, kataku pelan.

S. terus keheranan karena penasaran aku kembali mengecup putingnya. “Kamu jahat, aku sudah pengen sekali, aku masukin ya ke memekku”, pintanya.

“Tidak! Aku tidak ingin melakukannya”, kataku.

Sebenarnya aku ingin sekali. Tapi meski kami saling phone sex, tapi dalam hati aku menganggap S. sebagai jiejie (kakak perempuan dalam keluarga China). Saya tidak tega melakukannya dengan jiejie sendiri. Tapi ah, entahlah, kami sudah terbuai. S. pun akhirnya mengerti dengan keputusanku. Kamipun berbenah, dia mulai mengenakan sarung baru tanpa mengenakan g-stringnya. Saya juga demikian, pakaianku aku kenakan lengkap.

Kami minum dan akhirnya ngobrol lagi. Karena sudah mulai mengantuk aku minta ijin pulang, tapi S. tidak mau.
S. meminta saya tidur di kamar bersama temannya. S. tidur di samping temennya sedangkan saya dipinggir, tapi sesekali saya masih bisa menyentuh memeknya yang masih basah. Kamipun sesekali tersenyum sambil saling mengecup mesra…

Cerita Sex: Tatapan Ibu Mia

Cerita Sex: Tatapan Ibu Mia – Nama saya Red. Umur 24 tahun, dan saat ini bekerja di negara A sebagai Creative Director dari suatu perusahaan advertising/multimedia. Kesibukan saya di kantor menghalangi keinginan saya untuk bersosialisasi secara luas, kecuali dengan teman-teman sekerja saja. Hampir seluruh waktu saya berada di depan komputer.
cerita-sex-tatapan-ibu-miaCerita Sex: Tatapan Ibu Mia – Ist
Atas rekomendasi teman, saya menemukan situs 17Tahun cersex.com ini, dan berharap dapat menjalin persahabatan dengan saudara-saudari sebangsa dari manca negara. Beberapa hari terakhir saya mengambil cuti setelah menghabiskan 5 malam non-stop bersama rekan-rekan sekerja untuk menyelesaikan suatu proyek yang amat rumit dan riskan.
Waktu cuti tersebut saya habiskan untuk membereskan lemari arsip di rumah saya yang memang sangat berantakan, penuh dengan notes-notes, sketsa dan buku-buku referensi. Dari notes-notes tersebut, ternyata saya menemukan fragmen-fragmen kisah hidup saya semasa ber-SMA di kota asal saya di kota X.
Cerita sex – Setelah menyusunnya secara kronologis (ditambah beberapa telepon SLI sana-sini) saya berhasil membuatnya dalam bentuk digital supaya dapat saya gabungkan dengan diary saya yang tersimpan di dalam laptop saya. Berikut ini beberapa di antaranya..
Maret 1998..
Rugi nih bayar uang sekolah mahal-mahal.. Udah kelas di pojok gedung, dekat dengan bak pembuangan sampah sekolah lagi! Moga-moga nanti pas gua naik ke kelas 3 (kalo naik sih).. Gua dikasih kelasnya si Martin yang konon punya akses rahasia ke kamar mandi cewek! Yah kayaknya sih hari-hari kayak gini gua kudu bertabah-bertabah ria menghirup bau sampah yang nggak diangkut-diangkut..
“Eh Red.. Red! Eh udahin mikir kotornya.. Elu jadi ikut ngga sih?” temen gua si jelek Aldo bisik-bisik dari belakang. Maklumlah, pelajarannya Ibu Mia siapa sih yang berani ribut.. Kecuali kalo mau nilai Bahasa Indonesia merah di raport.
“Diem lu Jelek.. Elu sih nularin pikiran kotor dari belakang.. Emang jadi nonton di mana?”, balas gua selagi Ibu Mia ‘lengah’ ke papan tulis.
“Saya tidak mau dengar ada yang bisik-bisik ya!”, suara ketus Ibu Mia menggelegar di kelas.
Cerita sex terbaru jilbab, threesome, Bispak >>> cerita sex <<<
Untung dia tetap terpaku menulis di papan.. Sebel abis gua liat tampangnya yang judes gitu.. Apalagi dengan kacamata aneh yang segede pantat Teh Botol.. Amiitt.. PLOK! Segumpal kertas kecil meloncat di depan gua, isinya singkat,
“Bioskop Y, 4 sore”. Gua ngasih tanda oke ke si Jelek, yang dia balas dengan menendang bangku gua.. Sayangnya, terlalu keras, BRAK! Langsung deh si ‘Teh Botol’ judes berbalik dan melangkah cepat ke sumber suara.
“Sudah saya duga.. Kalau bukan kalian berempat, pasti gang-nya Katrina di sebelah sana.. Siapa yang tadi tendang meja?,” sambarnya dengan pedas.
“Eh.. Itu bangku yang kena, bukan meja.. Bu,” kata gua dengan polos.. Ngga tau kenapa tau-tau bisa bilang begituan.
“Kamu berempat nanti ketemu saya selesai pelajaran,” jawabnya dengan dingin, lalu berjalan kembali meneruskan pelajaran.
Hii..
*Notes: Saya berempat, plus si Jelek Aldo, Rio KBHRX (alias Ksatria Baja Hitam RX), dan Didi Duku memang teman akrab banget waktu itu.. Kita bukannya trouble maker sih.. Cuman aja untuk ukuran anak-anak Biologi, kita termasuk yang kurang bisa diam tenang di kelas.*
Rio langsung berbisik, “Goblok lu Lek! Nendang si Teh Botol kek sekalian, gua jadi kena juga..”
“Maunya sih, tapi gua takut..”, bisik si Jelek lebih pelan.
“Takut apa sama dia?”, bisik Duku yang di sebelah gua.
“Cakut dipelkoca,” bisik si Jelek dengan nada cempreng.
Langsung kita cekikikan berempat. Yang jelas membuat situasi menjadi tambah runyam. Lima menit kemudian, gua, Rio dan Didi duduk terdiam di luar ruang guru.. Menantikan vonis buat si Jelek. Konon kita masing-masing akan mendapat vonis yang berbeda. Setengah jam berlalu tanpa kabar. Beberapa guru yang lewat sekali-sekali menanyakan kabar kita, kenapa kita ada di sana, bla bla bla. Biasa deh kalo udah gitu guru-guru yang laen jadi ngerasa sok ngehakimin.
Omong-omong di antara anak-anak emang udah ada rumor kalo si Teh Botol sering menahan anak-anak lebih lama dari biasanya.. Cowo ato cewe sama aja. Kalo yang cowo konon disuruh milih: ‘disunat’ atau kasih dia sun, sementara yang cewe disuruh tari perutlah, bugil-lah dsb. Emang sih cuman joke doang.. Tapi mengingat si Jelek udah lebih dari 30 menit di dalam sana, kita jadi mikir jangan-jangan dia nolak nge-sun si Teh Botol mentah-mentah.. Yaiks. Padahal dipikir-dipikir sebenarnya Ibu Mia masih muda.. Paling sekitar 25-an deh. Selesai lulus kuliah langsung ngajar kali.. Buset kalo udah tua kayak apa tuh si Teh Botol. Moga-Moga ngga jadi botol Aqua.
“Suhardi, giliran kamu!” Tanpa gua sadar Didi sudah melangkah ke dalam, sementara si Jelek terdiam di hadapan kita berdua.
“Kenapa lu Jelek? Tambah jelek aja tuh muka..,” cerocos Rio.
“Koq lama sih?” Jelek terdiam, dari tatapannya kita bisa liat kalo dia terlihat sangat tertekan.
“Nontonnya batal,” kata si Jelek yang langsung melangkah pergi. Gua langsung ngejar.
“Eh gila.. Kenapa lu?” Gua cengkram tangannya..
Kita emang udah biasa kayak gitu. Tiba-Tiba si Jelek berputar cepat, dan tanpa gua sadar muka gua udah kena sabit tinjunya-BSET! – untung lolos, tapi gua hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai.
“Hey kenapa lu Lek!!,” gua berdiri balik..
Kurang ajar nih anak. Kalo bukan temen baek udah gua abisin di tempat. Rio menahan gua dari belakang, sambil memberikan tanda buat si Jelek supaya pergi aja.
“Biarin dia, Beh,” bisiknya setelah kita kembali duduk.
*Beh itu panggilan gua, dari Babeh – karena waktu itu gua maen drama jadi bapak-bapak yang kuper abis.*
“Kena sunat kali,” bales gua masih ketus.
Pipi gua sih ngga sakit, tapi temen baek gua sendiri asal nabok kayak gitu.. Enak aja! Ngga lama kemudian, Didi keluar dengan tersenyum..
“Tuh kan.. Gua bilang juga gua ngga salah apa-apa.. Mati lu nanti Beh!”
Gua cengar cengir doang sambil bilang, “Eh Duku elu tungguin gua ya?”
“Wah sorry Beh ngga bisa nih gua harus jemput adek gua di lantai dasar.. Nanti kan masih nonton? Si Jelek Aldo mana?”
Singkat cerita.. Rio juga lolos.. Tinggal gua yang sekarang duduk terdiam di depan Ibu Mia.
“Kamu tahu apa kesalahan kamu, Red?” matanya menatap tajam.
“Iya Bu, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud untuk..”
“Saya ngga minta kamu minta maaf! Saya tanya, kamu tahu tidak kesalahan kamu apa?”
“Mengganggu kegiatan belajar mengajar, Bu,” jawab gua dengan klise.
Ibu Mia lalu meletakkan kacamata Teh Botol-nya. Gua masih menunduk (biar dikasihanin), tapi dari pantulan kaca meja gua ngeliat sesuatu yang ganjil. Beliau lalu berdiri dan bertolak pinggang. Dari pantulan kaca mata gua sadar ternyata baju yang dia kenakan berbeda dengan yang dipakai waktu mengajar sebelumnya. Gaya banget nih guru.. Selesai ngajar langsung ganti baju.. Ngga repot apa?
“Saya sangat kecewa dengan kalian berempat. Nilai pas-pasan, di kelas tidak ada perhatian.. Apalagi kamu. Di kelas kerjaannya corat coret gambar-gambar yang jelas-jelas tidak membangun..! Apa pantas saya lalu membiarkan keserampangan seperti ini?”
Pelan-Pelan gua melihat ke arah Ibu Mia. Wah gila gua langsung shock liat wajahnya tanpa kacamata aneh begitu.. Soalnya.. Cantik dan manis sekali. Ternyata kacamata sialan itu bikin bagian matanya jadi tidak proporsional sehingga terlihat aneh. Tapi sekarang.. Gila gua kayak ketemu orang laen aja.. Tubuhnya pun ternyata ngga jelek-jelek amat.. Memang sih Ibu Mia tergolong pendek.. Tapi makin gua liatin badannya yang kecil itu ternyata seksi sekali. Pinggangnya ramping, mungil dan pinggulnya juga berisi.. Hmm kayaknya lepas Teh Botol yang di muka, langsung kelihatan deh Teh Botol yang di badan. Gua sampe ngga sadar kejap-kejap sendiri.. Kirain gua ketiduran.
“RED! Kenapa kamu kejap-kejap seperti itu?”, sentak Ibu Mia dengan kasar. Ternyata bukan mimpi!
“Oh ngga Bu.. Mata saya memang lagi perih..”, kata gua dengan gugup, sambil ngucek-ngucek mata.
Koq jadi gua yang salah tingkah gini?
“Saya khawatir saya akan sulit meluluskan siswa dengan sikap seperti kamu, Red..”, Ibu Mia meneruskan dengan dingin.
“Nilai-nilai kamu juga termasuk yang terburuk di kelas.. Selain si.. Siapa itu yang kemarin kakaknya kecelakaan?”
“Eh.. Mm.. Diane ya?”, jawab gua.
“Iya.. Diane.. Tapi mungkin dia bisa saya bantu karena dia juga mengalami beberapa musibah sebelumnya.. Tapi kamu..”
“Wah..”
Gua mulai ketakutan juga. Bisa mati nih kalo ngga naek kelas!
“Saya tidak yakin dengan kamu, Red. Akan sangat sulit sekali..”
“Masa Ibu ngga bisa kasih keringanan.. Misalnya membuat tugas tambahan.. Atau apa deh.. Saya akan berusaha..”, gua memelas.
Ibu Mia terdiam.. Pandangan dan ekspresinya bener-bener bikin gua beku. Nekat juga gua bisa melas-melas sama dia. Perlahan kemudian Ibu Mia berjalan menjauh, lalu duduk di sofa yang terletak di ujung ruangan. Matanya tetap ngeliatin gua. Gila nih kalo gua ngga naek, Om John bisa batal deh ngirim gua belajar ke negara A! Si Jelek bangsat.. Udah bikin masalah, pake nabok gua segala lagi!
“Red..” Ibu Mia memanggil.. Tiba-tiba nada suaranya berubah.
“Eh iya Bu?” Gua bertanya tak pasti.
“Kemarilah.. Ibu rasa Ibu tahu apa yang kamu bisa lakukan.”
Nada suaranya kini lebih netral dan lembut. Gua makin bergidik. Jangan-Jangan rumor-rumor itu bener. Perlahan-Perlahan gua berjalan mendekati Ibu Mia. Beliau duduk dengan menyilangkan kakinya.. Lumayan anggun juga ternyata si Teh Botol. Di depannya gua berdiam diri.. Ngga tau bisa ngarepin apa.
“Iya Bu?” Tanya gua sambil tersenyum pahit. Pasti muka gua ngga karuan nih bentuknya.
“Kamu.. Kamu sudah pernah bersenggama?” GLEK. Gua terbisu.. Kalo ini mimpi, dari mana mulainya? Mungkin gua salah denger.
“Maaf Bu?” Gua bales, berharap pertanyaan yang berbeda muncul.
“Ibu tanya apa kamu sudah pernah bersenggama?” GLEK. Ini beneran.
“Eh.. Saya..”
“Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau bilang.. Ibu hanya ingin tahu saja..” Gua terdiam kayak patung.
“Hanya saja Ibu ada feeling.. Anak muda segagah kamu.. Ibu bisa lihat kalo di sekolah tidak sedikit gadis-gadis yang melirik ke arah kamu kalau kamu sedang lewat..” Makasih deh Bu, pikir gua, tapi kenapa tiba-tiba suasananya berubah? Selama semenit.. Mungkin lebih kita terdiam.. Gua jadi bener-bener kikuk..
“Bu..”, gua memecah kesunyian.
Tiba-Tiba gua terpikir sesuatu. Ibu Mia hanya ngeliat gua lebih dalam. Sepasang mata itu mendadak jadi indah banget.
“Iya.. Saya pernah.. Beberapa kali.. Cuman main-main doang..”, aku sambil mengingat beberapa insiden yang lampau.
Ibu Mia tersenyum.. Gila ngga pernah gua liat dia senyum.. Ternyata seperti ini toh.. Wah kalo dia udah tidur sama siapa aja di sekolah ini? Tiba-Tiba di celana gua, gua baru sadar kalo ‘sang adik’ sudah bangun dari tadi.. Entah kenapa situasi seperti ini bikin gua jadi terangsang banget. Senyum Ibu Mia semakin misterius.
“Mendekatlah kemari, Red”, katanya dengan lembut.
Gua mendekat.. Sekarang pinggul gua udah sejajar dengan kepalanya..’sang adik’ yang terbangun tidak mungkin tersembunyi lagi.
“Udah bangun ya..,” kata Ibu Mia.
“Coba buka.. Ibu mau lihat.”
Dengan agak canggung gua buka celana gua, gua biarin jatoh ke bawah. ‘Sang adik’ kini terlihat berdiri dengan segar dan lumayan keras.. Gila nih.. Si Ibu mendadak kelihatan bergairah sekali, pikir gua.
“Ohh.. Lumayan besar juga ya.. Apa bisa lebih besar lagi..?”
Belum gua sempat berpikir, tiba-tiba Ibu Mia dengan lembut melekatkan bibirnya di batang penis gua. Langsung gua mengejang seperti disengat listrik.. Kaget banget sih..
“Huyss.. Tenang ya Red.. Ibu bakalan sangat lembut koq”, beliau tersenyum halus.
“I.. Iya Bu.. Ehh..”, jawab gua..
Ngga tau harus seneng atau sedih. Ibu Mia lalu meneruskan mengecupi batang penis gua, mulai dari dekat zakar sampai ke dekat kepala.. Diiringin dengan suara desahan yang bikin penis gua langsung keras dan tegang. Perlahan-Perlahan jemari-jemarinya mulai memainkan zakar gua dan meremas-meremas pantat gua. Mulutnya pun mulai berpindah ke kepala penis gua, dengan lembut dihisapnya pelan-pelan.. Masuk.. Keluar.. Masuk.. Keluar.. Sambil menjilat-menjilatkan lidahnya ke bagian yang mulai membasah tersebut.
“Mgghh.. Mgghh.. Mgghh..”
Saking terangsangnya, gua secara naluriah memegangi kepala Ibu Mia dan meremas-meremas rambutnya dengan gemas.. Beliau nampak cuek dan kelihatannya sih emang udah keasyikan dengan urusannya sendiri. Ibu Mia semakin bergairah menjilati dan meremasi penis gua.. Sampai-sampai gua ngga tau penis gua basah karena air ludahnya atau sperma pre-ejakulasi gua yang udah keluar sedikit-sedikit. Sebentar kemudian.. Gua udah bener-bener terangsang.. Rasanya gua ngga sabar giliran gua buat bikin basah vagina beliau dan muncrat di dalamnya sekalian.. Tapi kali ini gua tahan-tahan pingin melihat apa yang terjadi berikutnya..
Sekelebat gua teringat pengalaman gua dengan Joanna, dari jurusan sosial. Waktu itu dia cuman kocok-kocok penis gua dengan tangannya sambil menempelkan badannya yang hangat itu dan ngegosok-ngegosokin buah dadanya ke badan gua. Kita masih separuh berpakaian seragam di toilet sekolah yang memang lagi sepi banget. Waktu itu gua ngga sabaran.. Langsung deh gua perosotin rok dan celana dalamnya. Emang sih vaginanya Joanna udah agak basah.. Jadi gua cuman main-mainin dikit sama tangan gua.. Tangan gua yang satu lagi langsung main-mainin puting-puting buah dadanya.
Tiba-Tiba gua gerakin penis gua ke arah pinggulnya dan biarin penis gua masuk ke vaginanya yang udah basah. Akhirnya gua mangku Joanna sambil berdiri, sementara dia numpuin sebelah kaki ke wastafel. Untungnya dia udah basah banget, jadinya ngga gitu kerasa sakit buat ‘saat pertama’nya. Tapi yang jelas dia menggeliat kiri kanan saking terangsangnya. Setelah beberapa kocokan, dia langsung orgasme sambil memeluk gua eratt banget.. Guanya sendiri belon, jadi gua keluarin aja tuh penis dan gua muncratin semuanya di wastafel.. Tapi itulah jadinya, karena terburu-terburu.. Selesainya jadi ngga enak..
“Red.. Red! Koq mukanya jadi menerawang seperti itu?!”, suara Ibu Mia kini menghentak gua dengan lembut.
Tiba-Tiba ia berhenti dan mundur ke sofanya.. Tubuhnya kini berkeringat.. Dan ternyata baju ‘baru’nya itu cukup tipis sampe-sampe keringatnya itu membuat bagian dalam tubuhnya terlihat..
“Red.. Kamu.. Kamu bisa tahan lama ya sama Ibu..”, kata Ibu Mia sambil tersenyum.
“Aldo saja baru bentar udah muncrat ke baju Ibu..”
YA AMPUN.. Ternyata.. Pantesan si Jelek mukanya kusut gitu..!! Rupanya Ibu Mia berganti baju sebelum si Jelek keluar.. Gua jadi cekikikan sendiri.. Gua bales lu nanti Lek..!
“Eh Bu.. Kalo Rio dan Didi.. Mereka..”, mendadak gua teringat dua sobat gua yang laen.
“Mereka tidak Ibu apa-apakan,” katanya sambil tertawa ringan.
“Mereka sial bertemu dengan Ibu Mia yang galak.”
Gua nyengir sambil pelan-pelan gua deketin Ibu Mia. Ibu Mia tampak terdiam pasrah dan meringankan ekspresi tubuhnya. Perlahan-Perlahan gua lepasin blus atasnya, lalu BH pinknya.. Ternyata buah dadanya juga indah, kedua putingnya mengeras.. Pasti Ibu Mia sudah benar-benar hot. Terus gua lingkerin tangan gua di pinggangnya, lalu dengan pelan-pelan gua buka rok panjangnya..
Gua berusaha sesantai mungkin sambil meletakkan pakaian Ibu Mia di sofa.. Soalnya gua sendiri tegang banget.. Deg-degan gitu. Sementara penis gua udah tegang setegang-setegangnya.. Gua sengaja bersabar sambil menanti respon dari Ibu Mia.. Ibu Mia lalu mendorong gua dengan perlahan supaya gua berlutut di lantai.
“Sekarang giliran kamu, Red.. Sebelumnya belum pernah ada yang boleh seperti ini kecuali suami Ibu.. Tapi kamu spesial..”, kembali senyuman lembut itu menghiasi wajahnya.
SUAMI? Wah.. Pikir gua.. Ternyata serem-serem ini Ibu ngga beres juga nih.. Ah tapi cuek aja lah, pikir gua sambil berharap-berharap kalo moga-moga ngga ada yang nyelonos masuk ke ruang yang terletak di ujung gang tersebut. Sambil masih dalam posisi berlutut, gua mendekatkan pinggul Ibu Mia ke kepala gua. Bener juga.. Vaginanya udah basah, bahkan sedikit cairan mulai mengalir di pangkal pahanya.. Mungkin dia sudah orgasme sewaktu menghisap penis gua, gua pikir.
Gua mulai dengan mengecup-mengecup kemaluan Ibu Mia mulai dari bulu-bulu sampai ke bagian kelentitnya.. Rupanya kalo gua main perlahan dan lembut, ternyata lebih menggairahkan daripada gubrak-gabruk-an seperti dengan Joanna dulu.. Lalu gua mulai melumat-melumat daging imut yang mulai menyembul di kemaluan beliau.. Ibu Mia langsung mendesah sambil menjambak-menjambak rambut gua..
“Ohh Redd.. Ahh.. Ahh.. Hh.. Terusinn.. Aahh..”
Makin lama gua udah makin lupa diri.. Gila.. Bisa-bisa gua muncrat duluan nih.. Suara Ibu Mia bener-bener bikin kesabaran gua serasa di ujung tebing.. Ibu Mia sendiri kelihatannya udah siap, soalnya cairan dari vaginanya semakin deras.. Rasanya bener-bener aneh, buat gua sendiri ini baru kedua kalinya gua ngerasain cairan kayak beginian.
Lagi-Lagi pikiran gua menerawang (sambil dengan hotnya masih melumat) waktu gua pertama kali mencium dan melumati kemaluan seorang wanita, yaitu milik Deasy sepupu jauh gua yang umurnya sekitar 2 tahun lebih tua. Kita waktu itu bertemu waktu pernikahannya Om John dan Tante Sarah. Awalnya sih cuman bincang-bincang kecil doang tapi..
“Ohh Red..”, desah Ibu Mia agak keras, menghancurkan nostalgia gua.. Muka Ibu Mia sudah merah dan berpeluh keringat.
“Iya Bu?”, dengan sok polosnya gua menjawab.
Ibu Mia lalu mundur perlahan dan kembali duduk di atas sofa, kali ini beliau sengaja duduk di atas tumpukan baju yang gua taruh di sana sebelumnya.. Mungkin supaya cairan segar dari dalam vaginanya itu tidak mengotori sofa, pikir gua. Sejenak kita berdua bertatapan.. Ibu Mia duduk dengan kedua pahanya sedikit mengangkang, tampak beliau pasrah saja memamerkan liang kemaluannya yang telah membesar dan amat basah itu. Sementara gua perlahan berdiri, juga memamerkan penis gua yang udah full tegang dan memanas..
“Red..”, bisik Ibu Mia, sambil tersenyum mesra.
“Tolong kuncikan pintu, Ibu lupa.. Hehehe..”
Gua nyengir sambil segera berjalan berbalik ke arah pintu. Pintu masuk ruangan tersebut memang agak terhalang dari sofa oleh sebuah lemari arsip yang cukup besar. Tapi gua emang pernah baca kalo privacy buat cewe itu penting sekali buat bikin dia makin pe-de dalam bercinta. Waktu gua ngelangkah ke deket pintu, gua shock berat karena ada sesosok wajah menyembul di pintu tersebut.. Rupanya pintu itu sedikit terbuka. Si pemilik wajah juga terlihat sama shocknya. Ternyata seorang cewe manis berpakaian SMA, tapi warna roknya berbeda.. Berarti dia dari sekolah lain.
Cewe itu menatap gua sejenak, lalu sekejap melirik ke penis gua yang memang lagi ngeceng banget. Wajahnya sangat manis dan agak kekanak-kekanakan, tetapi saat ini kepucatannya memendungi kecantikannya. Perlahan cewe tersebut mundur dan menghilang, sambil sekilas ia memberikan tatapan memelas sama gua.. Seolah-seolah ia berkata, “Ampuni saya Bang, jangan apa-apakan saya!”. Dengan cepat gua menutup dan mengunci pintu, lalu segera melangkah kembali ke arah Ibu Mia.
“Kenapa, Red? Koq wajah kamu seperti sehabis melihat hantu?”, kata Ibu Mia.
Iya, Bu. Hantu cantik, kata gua dalam hati. Oh, untunglah, kayaknya dia ngga tau, pikir gua. Mungkin terhalang oleh lemari arsip itu.
“Eh.. Ngga Bu.. Saya.. Eh.. Ibu seksi sekali.. Eh.. Muka saya emang kayak gini kalo liat cewe seksi..”, kibul gua dengan ekspresi yang so pasti ngga ketulungan jeleknya.
Ibu Mia tertawa kecil lalu beliau mulai rebahan di atas sofa.. Pinggulnya masih diletakkan di atas tumpukan baju-bajunya. Kemudian beliau menyamping, perlahan menghadap ke arah gua.. Tubuhnya yang mungil seksi itu kini nampak begitu sensual. Lalu Ibu Mia mengangkangkan kedua pahanya, sambil dengan lembut memutar-memutarkan pinggulnya ke arah gua. Salah satu tangan beliau juga mengusap-mengusap vaginanya naik turun.
“Ayo Red.. Ibu sudah siap..”, kata Ibu Mia dengan halus. Gua berjalan mendekati Ibu Mia.
“Akhirnya..”, kata gua dalam hati.
Dudukan sofa di ruang tersebut memang cukup panjang sehingga cukup buat gua juga ikutan berlutut di atas sofa. Perlahan gua dekatin penis gua ke arah vagina Ibu Mia. Begitu bersentuhan, Ibu Mia tampak menarik napas pendek lalu mendesah lembut.
“Ahh..”
Lalu gua mulai deh menggenjot Ibu Mia dengan perlahan-perlahan berusaha serelax mungkin. Karena vaginanya udah cukup basah dan terbuka, gua masuk dengan lumayan gampang. Sekejap kemudian gua sudah mengocok-mengocok penis gua di dalam vagina Ibu Mia. Beliau pun mengikuti dengan menggoyang-menggoyangkan pinggulnya sesuai dengan irama genjotan gua.
“Ohh! Aghh.. Ohh Red.. Ohh.. Ohh.. Hhghh.. Hgghh..”, desah Ibu Mia dengan seksi, menambah panas nafsu gua.
“Ohh Ibu.. Hhgghh..”, tak sadar gua juga ikutan mendesah.
Nggak nyangka dia udah bersuami, vaginanya ngga kalah rapet dan kencang dengan yang punya Joanna atau Deasy. Keringat kita berdua sudah berpeluh sekujur badan, sementara gerakan-gerakan sensual menjadi semakin cepat dan makin berirama. Buah dada Ibu Mia yang walaupun sudah sangat kencang juga ikutan bergoyang seirama dengan gerakan kita. Gua lalu memiringkan badan gua ke depan sedikit supaya tangan kanan gua bisa meremas-meremas payudaranya yang menantang itu. Sambil menggenjot Ibu Mia, gua juga muter-muterin putingnya bergantian kiri kanan.
“Aahh.. Redd.. Kamu nakall.. Ohh.. Ohhgghh..”, desah Ibu Mia semakin keras.
Sekelibat gua melirik ke arah pintu dan jendela, berharap tidak ada yang melihat.. Hmh, kecuali si cewe ‘cilik’ itu. Setelah beberapa lama gua udah ngga kuat lagi.. Gila vagina serapet ini gua bisa muncrat bentar lagi. Tapi gua paksain sampe Ibu Mia orgasme duluan.
“Ohh Redd.. Ibu sudah hampir.. Oohh oohh ohh.. Ahh ahh.. Hgghh..,” nafas dan desah Ibu Mia semakin memburu dan gerakannya pun mulai sedikit menghentak.. Sebentar lagi, pikir gua..
“Red.. Tolong.. Hh.. Hh.. Jangann dikeluarin di dalam, ya..? Ohh ohh”, pinta Ibu Mia tanpa melihat ke arah gua.
“Hh.. Hh.. Beres Bu”, kata gua sambil mendesah-mendesah juga..
Gila apa, belon saatnya gua jadi Babeh beneran!
“Aahh..!”, Ibu Mia pun orgasme sambil berteriak kecil dengan halusnya..
Dan dengan mata membelalak sampai tinggal putihnya saja, Pinggulnya dihentakkan sekeras mungkin, seolah-seolah beliau sedang mengeluarkan sesuatu yang amat dahsyat dari liang cintanya. Gua bisa merasakan percikan orgasmenya membasahi penis gua yang masih asik gua goyangin di dalam. Gua sendiri udah ngga tahan.. Dengan cepat gua tarik penis gua, yang langsung gua angkat ke atas perut Ibu Mia. Splorrtt.. Clorrtt.. Splooshh.. Sperma gua keluar banyak sekali.
“Ugghh..”, keluh gua sambil mengeluarkan tetes-tetes sperma gua yang terakhir..
Kontan gua berasa selesai lari marathon, bolak balik Sabang-Merauke-Sabang.. Lalu ibu Mia melumat kontol gua dengan rakusnya sampai sisa sperma bersih ditelan habis dan setelah istirahat sejenak main lagi 2 ronde dengan gaya doggy style Gua lalu merebah ke atas Ibu Mia dengan cueknya. Paling ditendang, pikir gua. Ibu Mia lalu dengan lembut merangkul gua dan mengijinkan gua melepas lelah di atas buah dadanya yang empuk itu. Bibirnya sesekali mengecup-mengecup kepala gua.
“Er.. Ibu..”, gua mendekatkan diri.
“Kenapa seperti ini?” Ibu Mia menghela nafas panjang, tanpa melihat gua bisa tau kalo beliau sedang menerawang ke langit-langit ruangan.
“Ibu kesepian, Red.. Mas Hardy terlalu disibukkan oleh bermacam-bermacam pertemuan dan proyek di kantornya di luar kota.. Kami bertemu hanya seminggu 2 atau 3 kali.. Itu pun hanya sore-sore atau malam.
Kesempatan kami untuk sekedar berbagi rasa saja hanya sedikit, apalagi melakukan hubungan suami-istri..,” kembali Ibu Mia menghela nafas panjang, kali ini suaranya terdengar agak lebih terputus-terputus.
“Ibu.. Ibu hanya dipuaskan oleh begituan kalau dengan orang lain, Red. Mas Hardy seringkali terlalu lelah, jadi selama ini dia selalu keluar duluan..” Ibu Mia mulai menangis kecil.
Hati gua jadi ikutan iba juga.. Mungkin seharusnya gua ngga nanya aja.. Lagian buat beliau kenikmatan ini pasti cuman sepintas lalu.
“Udah deh Bu.. Ngga perlu diterusin.. Saya jadi menyesal nanya begitu sama Ibu”, kata gua.
“Ngga Red, ngga apa-apa.. Selama ini pria-pria lain cenderung lebih memperdulikan ‘kapan’ bisa bercinta lagi dengan Ibu, daripada ‘mengapa’ Ibu seperti ini”, balas Ibu Mia.
Hati gua jadi lumayan luluh juga.. Padahal sih gua juga mau nanya seperti itu.. Setelah pertanyaan yang pertama hi hi hi hi.. Beberapa saat kemudian, kita berpakaian dan merapihkan diri. Untung ada wastafel kecil di pojok ruangan. Ibu Mia mengenakan pakaian lain lagi.. Hebat lu, pikir gua.
Sambil keluar dari pintu, Ibu Mia tiba-tiba berkata, ” Jadi jangan lupa ya Red, ringkasan artikelnya Ibu minta minggu depan.. Dan juga test ulang hari Jumat ini!”
Kembali beliau ucapkan dengan nadanya yang ketus dan dingin. Dari ekor mata gua, terlihat cewe yang tadi ngintip.. Kelihatannya dia menunggu Ibu Mia.. Wah pantesan Ibu Mia tiba-tiba ngomong gituan.. Entah beliau memang mengharapkan cewe tersebut untuk datang atau beliau ngeliat dia duluan waktu kita melangkah keluar.
“Iya Bu”, jawab gua sambil menunduk, ikutan mensukseskan ‘drama kecil’ kami. Gua lalu cepat-cepat melangkah keluar hall.
“Oh iya Red,” Ibu Mia memanggil.
“Iya Bu?”
“Ini Tasha, keponakan Ibu yang baru datang dari kota DG.. Dia akan mulai bersekolah di sekolah M mulai minggu ini..”
Kami berjabatan. Tasha terlihat sangat risih dan malu-malu.
“Tasha memang pemalu Red”, kata Ibu Mia berusaha meringankan suasana.
Bukan pemalu Bu, balas gua dalam hati, itu karena matanya baru terbuka pada ‘realitas hidup’. Hehehe.. Jadi cekikikan sendirian. Dengan cuek gua lalu melengos keluar gedung sekolah. Sebelum pulang gua mentoleransi perut gua yang udah keruyukan di warung bakso belakang. Pikiran gua kosong, gua biarin aja melayang-melayang ke mana-mana ngga karuan..
Itulah hasil rekonstruksi pengalaman saya sewaktu SMA.. Masih ada setumpuk notes-notes lain yang sedang saya compile ke dalam laptop saya saat ini. Dahulu semasa saya kecil, mendiang kakek saya pernah berkata kalau mata saya tidak boleh melihat perempuan. Saya kira beliau hanya bercanda. Dan setiap kali saya tanyakan kenapa, jawabannya pasti serupa,
“Yang dilihat kamu ngga bisa lepas begitu aja.. Nanti kamunya yang susah..”
Saking seringnya saya dengar, saya jadi sebal sendiri.. Baru setelah SMA saya mengerti kira-kira apa yang beliau maksud. Papa dan Om John, adiknya, memang pernah mengatakan kalau kakek konon punya ilmu-ilmu gelap. Entah kenapa Papa dan saudara-saudaranya kelihatannya tidak ada yang mewarisinya, mungkin karena jaman yang berubah atau apalah..
Sejak saat kejadian itu ibu Mia sangat baik dan sering kali kalau ada kesempatan jam sekolah sudah usai memberi kode untuk mengulangi dimana saja baik di ruangan sekolah maupun di hotel atau di rumahnya jika memang sepi dan juga dengan Tasha suatu saat kami membuat janji, juga dengan ibu lain teman dekat ibu Mia juga yang bodynya lebih seksi lagi.